Bab Tujuh Puluh Tujuh: Gu Qingzhu!
“Namaknya sudah kupikirkan, tapi urusan mendirikan perusahaan itu terlalu rumit, aku harus mencari orang untuk membantu,” ujar Lu Cheng sambil mengerutkan kening.
Prosedur yang harus diurus untuk mendirikan perusahaan saja sudah cukup membuat pusing kepala. Selain izin usaha, juga harus ada sertifikat kualifikasi profesi dan lain-lain. Terlebih lagi, karena produksi prostetik berkaitan dengan industri dan individu, mungkin juga harus melakukan berbagai pendaftaran. Belum lagi soal pemilihan lokasi yang juga perlu bantuan tenaga profesional.
Dulu, saat mendirikan perusahaan, semua urusan ini diurus oleh Dong Mingcheng, sementara Lu Cheng hanya perlu membangun kerangka perusahaan dan bertanggung jawab atas pengembangan produk. Sekarang, mulai dari nol lagi, semuanya harus dimulai ulang!
“Kalau pun harus cari orang, harus cari yang benar-benar bisa dipercaya, jangan sampai ketemu serigala berbulu domba lagi,” gumam Lu Cheng dalam hati.
Ia merenung sejenak, lalu mengambil ponsel dan menekan sebuah nomor.
Setelah beberapa dering, telepon pun tersambung.
Dari seberang, terdengar suara malas namun sedikit menggoda, “Halo, Bos, akhirnya ingat menelepon aku juga ya.”
Nada bicara itu jelas mengandung sedikit keluhan manja.
Lu Cheng berdeham pelan, “Lagi apa sekarang?”
“Apa lagi, tidur dong.”
“Jam segini masih tidur, nggak kerja?”
“Ehehe, sekarang aku sudah jadi pekerja lepas.”
Lu Cheng terdiam sebentar, lalu berkata, “Ada waktu nggak? Bisa ketemu ngobrol?”
Tak lama kemudian, dari seberang terdengar langkah kaki bergegas.
“Ada kok, kita ketemu di mana?”
Lu Cheng berpikir sejenak, “Di dekat rumahmu saja, cari kafe yang enak.”
“Aku ke kompleksmu dulu, ya.”
Suara di seberang terdengar girang, “Wah, Bos jadi perhatian sekarang, baiklah, aku tunggu.”
Lu Cheng menutup telepon, melirik ke arah Lin Xier yang masih asyik melukis di kamar, lalu berkata, “Xier, aku keluar sebentar. Kalau sampai siang belum pulang, kau pesan makanan sendiri saja, ya.”
Lin Xier menoleh sekilas, lalu kembali melanjutkan lukisannya, “Aku bukan anak kecil, bisa jaga diri sendiri.”
Lihat saja caranya sekarang, masih saja bilang bisa jaga diri… Lu Cheng membatin dalam hati.
Namun ia tahu, Lin Xier hanya tak ingin membuatnya khawatir, makanya berpura-pura tak peduli.
Tentu saja, Lin Xier memang bukan anak kecil lagi, dan Lu Cheng juga tak mungkin selalu menemaninya. Nanti kalau perusahaannya sudah berdiri, ia pasti makin jarang di rumah.
“Nanti kalau prostetik pintar sudah jadi, biar Xier coba pakai. Kalau cocok, sekalian ajak dia masuk perusahaan, supaya dia lebih banyak bergaul, biar nggak jadi gadis rumahan beneran,” pikir Lu Cheng.
Bukan berarti ia menganggap gadis rumahan itu buruk, hanya saja sifat Lin Xier memang terlalu tertutup dan penyendiri.
Perlahan, ia harus membimbing Lin Xier supaya lebih baik.
Tak berlama-lama, Lu Cheng keluar dari kompleks, langsung menyetop sebuah mobil dan meluncur ke Distrik Huangpu.
Empat puluh menit kemudian, Lu Cheng tiba di sebuah kompleks apartemen. Kawasan itu rindang, bersih, dan rapi—termasuk kelas menengah di Distrik Huangpu.
Lu Cheng menelepon, memberitahu kalau ia sudah tiba, lalu menunggu dengan sabar.
Sepuluh menit kemudian, seorang gadis keluar dari dalam kompleks. Ia mengenakan gaun merah ketat yang mempertegas lekuk tubuh, tas biru kecil di bahu, dan rambut cokelat bergelombang terurai panjang.
Ia memakai sepatu hak tinggi terbuka, menampakkan betis dan kaki putih mulus. Begitu melihat Lu Cheng di gerbang, gadis itu segera melambaikan tangan dan berlari kecil menghampiri.
Tubuhnya yang ramping dan gerakannya yang lentur seperti ular air membuatnya tampak sangat muda dan enerjik.
“Hai, Bos, nggak nunggu lama kan?” Gadis itu berdiri di depan Lu Cheng sambil tersenyum manis.
Lu Cheng menatapnya dan mengangkat bahu, “Nggak, cuma sepuluh menit saja.”
“Tapi, ngomong-ngomong, waktu kerja dulu, aku nggak pernah lihat kau berdandan seperti ini. Baru beberapa bulan nggak ketemu, kok berubah ya?”
Gadis di depannya bernama Gu Qingzhu. Dia mantan direktur keuangan di perusahaan sebelumnya, lulusan Universitas Keuangan Nasional, usianya dua puluh lima, sangat kompeten. Sejak perusahaan belum go public, ia sudah ikut Lu Cheng membangun bisnis dari awal, dan juga termasuk segelintir orang yang direkrut langsung oleh Lu Cheng.
Setelah Lu Cheng dijebak oleh Dong Mingcheng, ia pun ikut mengundurkan diri—bukan dipecat, tapi memilih keluar sendiri!
Saat itu Lu Cheng sedang putus asa, jadi ia pun tak banyak menghubungi teman kerja. Hanya saja, Gu Qingzhu sempat beberapa kali meneleponnya, tapi selalu diabaikan oleh Lu Cheng.
Sekarang, Lu Cheng sendiri yang mencarinya, tentu ada sedikit rasa canggung.
Namun, mengingat perusahaannya butuh seorang asisten serba bisa, Lu Cheng pun memberanikan diri datang.
Gu Qingzhu tak mempermasalahkan Lu Cheng pernah mengabaikan teleponnya, malah menatapnya dengan senyum riang, “Jadi aku sekarang makin jelek atau makin cantik?”
“Sama-sama cantik,” jawab Lu Cheng sambil tersenyum.
Dulu, Gu Qingzhu selalu tampil seperti wanita karier profesional, terkesan matang dan tegas. Sekarang, ia lebih mirip ratu kecil di klub malam; menggoda namun tetap berkelas.
Gu Qingzhu tertawa, “Bos, jadi kamu makin pintar merayu sekarang. Pasti ada perlu sama aku, ya?”
Lu Cheng mengibaskan tangan, “Sudahlah, aku sekarang bukan bos siapa-siapa, panggil saja Lu Cheng.”
Gu Qingzhu tersenyum tipis, “Sekarang memang bukan, tapi sebentar lagi pasti jadi bos lagi. Bukankah kamu mencariku untuk bicara soal mendirikan perusahaan baru?”
Perempuan ini… Lu Cheng tak bisa menahan decak kagum dalam hati. Tanpa ia bercerita apa pun, Gu Qingzhu sudah menebaknya dengan tepat. Ia memang gadis yang sangat cerdas.
“Baiklah, cari tempat ngobrol yuk,” kata Lu Cheng sambil mengangkat bahu.
Gu Qingzhu tersenyum dan berkata, “Aku tahu ada kafe yang suasananya enak di dekat sini, aku antar.”
Sepanjang jalan menuju kafe, Gu Qingzhu dengan penampilan menawan dan wajah cerah menarik perhatian banyak orang, membuat beberapa pejalan kaki menoleh berkali-kali.
Lu Cheng menggeleng pelan, “Jadi pacarmu pasti capek, ya. Berdiri di sampingmu saja harus siap terima tatapan penuh iri dari segala arah.”
Gu Qingzhu mendengus pelan, sedikit mengeluh, “Sudah sekian lama di perusahaan, kau tak pernah benar-benar melihatku.”
Lu Cheng memilih diam. Saat itu ia terlalu sibuk membangun perusahaan, ditambah urusan dengan Lin Xier, mana sempat memikirkan urusan cinta. Kalaupun butuh, ya hanya sesekali melepas penat di bar, tak pernah terpikir mendekati orang terdekat sendiri.
Apalagi, Gu Qingzhu gadis baik-baik, bukan seperti perempuan di kelab malam yang bisa keluar masuk seenaknya. Kalau sudah terlibat, pasti sulit berbalik arah.
Melihat Lu Cheng diam saja, Gu Qingzhu langsung mengganti topik, “Bagaimana kabar adik Xier?”
Tentu saja ia mengenal Lin Xier, bahkan tahu alasan Lu Cheng mendirikan perusahaan juga demi Lin Xier.
Lu Cheng mengangguk, “Lumayan, sudah agak terbuka sekarang.”
Gu Qingzhu menoleh dan berpesan, “Bos, bukan bermaksud menggurui, tapi Xier itu pendiam, kau harus sering ajak bicara, jangan sampai kalau sudah kerja, dia malah makin diabaikan.”
Lu Cheng tertawa ringan, “Itu memang harus aku perbaiki.”
Sambil mengobrol, mereka sampai di sebuah kafe di pojok jalan. Suasananya klasik, di dalamnya ada beberapa kucing lucu yang bisa diajak bermain oleh para tamu.
Mereka memilih duduk di dekat jendela. Gu Qingzhu menatap Lu Cheng, senyum menggoda merekah di bibirnya, “Jadi, Bos, sebenarnya kau mau aku bantu apa?”