Bab Seratus Tiga Puluh Satu: Dua Kelompok Orang
Dia menoleh ke sekeliling dan merasakan ada sesuatu yang janggal. Meski pasar malam hari ini tampak seperti biasa dengan orang-orang yang bertelanjang dada sambil minum-minum, tidak ada suara bising yang lazim terdengar. Suasana di sekitarnya luar biasa sunyi, hanya menyisakan suara denting alat makan dan gelas.
"Ada apa?"
"Tidak apa-apa. Kau pergi saja duluan, pesan kamar, dan tunggulah aku di sana. Aku akan segera menyusul," ucap Ye Tiancheng sambil tersenyum lebar.
"Jangan berbohong padaku. Melihat raut wajahmu, pasti ada sesuatu yang terjadi," sahut Yu Mengting yang tidak mudah ditipu.
Ye Tiancheng kembali mengamati sekelilingnya dan berkata, "Orang-orang di sekitar sini datang untuk mencariku, itulah sebabnya aku menyuruhmu pergi lebih dulu."
Mendengar itu, wajah Yu Mengting berubah drastis. Ada setidaknya seratus orang lebih di sekeliling mereka. Ternyata Tu Shengjie mengerahkan begitu banyak orang untuk menghabisi Ye Tiancheng.
"Tenang saja, mereka bukan ancaman bagiku. Pergilah sekarang."
"Apa menurutmu aku tipe orang yang takut mati?"
"Ini bukan soal takut mati atau tidak, tapi jika kau tetap di sini, kau hanya akan menghambatku," ujar Ye Tiancheng dengan nada pasrah.
Dua kepalan tangan takkan sanggup melawan seratus orang dengan dua ratus tangan. Meski Ye Tiancheng yakin bisa meloloskan diri, ia tidak memiliki kepercayaan diri jika harus sekaligus melindungi Yu Mengting.
Yu Mengting pun mengerti situasinya. Ia sadar dirinya tidak bisa membantu dan kehadirannya justru akan menjadi beban bagi Ye Tiancheng. Ia pun berdiri dan berkata, "Aku akan memesan kamar dan menunggumu. Aku akan menunggumu sampai kau datang."
Ye Tiancheng menyeringai nakal. "Jangan lupa bersihkan dirimu, aku akan segera ke sana."
Setelah sosok Yu Mengting menghilang dari pandangan, Ye Tiancheng berdiri dan berseru, "Kalian mau menyerang atau tidak? Kalau tidak, aku pergi sekarang."
Mendengar tantangan itu, orang-orang tersebut tampak kebingungan dan melirik ke arah satu orang. Ye Tiancheng mengikuti arah pandang mereka dan mendapati seorang pria bermata satu.
"Jadi, kau pemimpin kelompok ini? Aku penasaran, berapa banyak Tu Shengjie membayarmu untuk mengambil nyawaku?"
"Tu Shengjie siapa? Aku tidak kenal," jawab pria bermata satu itu dengan dingin.
"Oh? Kalau kau tidak mau mengaku tidak masalah, yang penting kau memang datang untuk mencariku," ujar Ye Tiancheng sambil meregangkan pergelangan tangannya.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah lain. Sekelompok orang lagi muncul dengan membawa senjata, berjalan mendekati posisi Ye Tiancheng. Pria bermata satu itu tampak tegang saat melihat kelompok tersebut. Ye Tiancheng pun memperhatikan perubahan raut wajahnya dengan heran.
*Apakah mereka bukan satu komplotan? Apakah ada kelompok lain yang juga ingin menghabisiku?*
Dua pemikiran itu melintas di benak Ye Tiancheng. Tiba-tiba, sebuah ide muncul. Ia berseru keras ke arah kerumunan itu, "Kawan-kawan, lihatlah! Mereka itulah yang ingin mencariku. Kalau kalian ingin melawanku, bicaralah dulu dengan saudara-saudaraku itu!"
Mendengar perkataan itu, wajah pria bermata satu tersebut menjadi kelam. "Sialan! Aku tidak peduli berapa banyak orang yang kau punya. Karena aku sudah menerima bayarannya, tugas ini harus diselesaikan!" Pria bermata satu itu segera memimpin anak buahnya menyerbu kelompok yang baru datang.
Kelompok yang baru tiba pun tampak bingung. "Wah, jangan-jangan bocah ini tahu kita akan datang?"
"Sepertinya begitu, kalau tidak, tidak mungkin ada begitu banyak orang di pihaknya."
"Sudahlah, kita di dunia ini harus memegang janji. Karena kita sudah menerima uang dari sang Tukang Jagal, kita harus menyelesaikan pekerjaan ini."
Kedua kelompok itu pun terlibat perkelahian hebat tanpa tahu bahwa target mereka sebenarnya sama, yaitu Ye Tiancheng. Sementara itu, Ye Tiancheng yang seharusnya menjadi pusat perhatian justru berdiri di samping dengan santai sambil menonton layaknya penonton.
Di sudut ruangan, Tu Shengjie menatap Ye Tiancheng dengan wajah muram. "Sialan, bagaimana bocah ini bisa tahu aku akan menyerangnya?"
Melihat situasi yang kacau, Tu Shengjie sadar ia tidak akan bisa membunuh Ye Tiancheng jika hanya diam saja. Dengan terburu-buru, ia mengeluarkan sebilah pisau belati dan mencoba mendekati Ye Tiancheng secara diam-diam, melupakan semua peringatan dari sang Tukang Jagal.
Di sudut lain, sebuah mobil terparkir dan seseorang di dalamnya sedang memperhatikan kejadian itu. Dia adalah Chen Zhen. Chen Zhen tampak kebingungan melihat pemandangan di depannya.
"Sialan, apa-apaan ini? Kalau begini terus, bagaimana aku bisa menghabisi Ye Tiancheng? Kalau terpaksa, aku akan membunuhnya di tengah kekacauan ini."
Dengan pemikiran itu, Chen Zhen turun dari mobil, mengambil pipa baja dari bagasi, dan berlari menerjang ke arah Ye Tiancheng.
Saat Ye Tiancheng sedang asyik menonton keributan, ia tiba-tiba merasakan ada seseorang yang mendekatinya dari belakang dengan langkah pelan. Begitu diperhatikan, mata Ye Tiancheng berbinar. Ternyata itu si pecundang Tu Shengjie.
Ye Tiancheng menyapa dengan santai, "Tuan Muda Tu, kebetulan sekali, apakah kau juga datang untuk menonton pertunjukan?"
"Tutup mulutmu! Hari ini aku pasti akan membunuhmu!" sadar bahwa kehadirannya ketahuan, Tu Shengjie tidak lagi bersembunyi dan berteriak lantang ke arah Ye Tiancheng.
Ye Tiancheng menatap Tu Shengjie dengan tatapan meremehkan. *Hanya kau?*
Saat Ye Tiancheng bersiap untuk bergerak, ia mendapati sosok lain yang sedang mendekat. Setelah diamati, ternyata itu Chen Zhen. Kini, Ye Tiancheng akhirnya mengerti bahwa di balik dua kelompok yang sedang bertikai itu adalah Chen Zhen dan Tu Shengjie. Pria bermata satu itu kemungkinan disewa oleh Chen Zhen, sementara kelompok lainnya adalah suruhan Tu Shengjie.
Sebuah senyum licik tersungging di bibir Ye Tiancheng. Ia melambai ke arah Chen Zhen dan berteriak keras, "Kak Chen Zhen, aku di sini!"
Tu Shengjie yang hendak menerjang Ye Tiancheng mendadak terpaku. Ia menoleh dan mendapati Chen Zhen benar-benar sedang berlari ke arah mereka dengan pipa baja di tangan.
Ye Tiancheng berkata dengan penuh percaya diri, "Tu Shengjie, Kak Chen Zhen sudah datang! Sekarang coba katakan, apa lagi yang bisa kau sombongkan?"
Kepala Tu Shengjie terasa berdenging. Dengan penuh kebingungan, ia bertanya, "Jangan berlagak kau! Sejak kapan Chen Zhen jadi kakakmu?"
"Kenapa aku berlagak? Aku tadinya tidak tahu kau mengerahkan begitu banyak orang untuk melawanku, justru Kak Chen Zhen yang memberitahuku dan sengaja membawa kelompok ini untuk membantuku," ujar Ye Tiancheng sambil menunjuk ke arah dua kelompok yang sedang baku hantam.
Tu Shengjie seketika paham. *Pantas saja, bagaimana mungkin Ye Tiancheng bisa mendapatkan orang sebanyak itu untuk membantunya, ternyata si brengsek Chen Zhen inilah yang ikut campur.*
Tepat saat itu, Chen Zhen tiba di hadapan Ye Tiancheng. Ia tertegun sejenak dengan wajah bingung melihat keberadaan Tu Shengjie.
"Hei kau bermarga Chen, apakah mereka itu anak buahmu?" tanya Tu Shengjie dengan nada penuh amarah.
"Tentu saja, aku hari ini..."
Belum sempat Chen Zhen menyelesaikan kalimatnya, Tu Shengjie sudah menghujamkan belatinya. "Hari ini aku akan membunuhmu!"
Bahkan bagi orang yang terlatih seperti Chen Zhen, serangan mendadak itu membuatnya terkejut. "Kau yang bermarga Tu, apa kau sudah gila?" Chen Zhen menghindar dengan sigap sambil memaki.
Kemudian, teringat sesuatu, ia menunjuk ke arah orang-orang yang sedang bertarung dan bertanya, "Apakah mereka itu anak buahmu?"
"Hehe, memangnya siapa lagi?" jawab Tu Shengjie dingin.
"Baik, kalau begitu hari ini salah satu dari kita harus mati!" Chen Zhen tidak lagi peduli dan mengayunkan pipa bajanya ke arah kepala Tu Shengjie.