Bab Dua Puluh Empat: Pernikahan Dimulai
Meskipun begitu, Qitianan tetap bersikeras membantah.
“Cuma seorang satpam kecil, apa yang perlu disombongkan!”
Setelah makan, salah satu teman yang tidak suka pada Qitianan mengejek, “Tian, bukannya kamu biasanya songong? Kenapa tidak pergi bayar tagihan, duduk saja di sini mau ngapain?”
Qitianan melirik Zhou Ting, lalu berkata dengan tegas, “Cuma bayar tagihan, kan? Tanpa disuruh pun aku tahu.”
Memang harus keluar sedikit uang, walau agak berat, tapi bagaimanapun juga tak bisa mempermalukan diri sendiri di depan Zhou Ting.
Namun ketika ia hendak membayar, resepsionis berkata bahwa meja mereka gratis.
Qitianan tampak bingung.
“Meja kami kok bisa gratis? Apa tidak salah?”
“Tidak mungkin salah, ini perintah khusus dari manajer umum.”
Mendengar itu, Qitianan menyipitkan mata.
Siapa sebenarnya latar belakang Ye Tiancang, sampai manajer umum Hotel Rum harus begitu memperhatikannya?
Setelah kembali, Qitianan pun tidak menjelaskan soal makan gratis itu, malah pura-pura sudah membayar.
Rombongan pun keluar dari hotel. Walaupun Zhou Yan orangnya sederhana, ia tetap mengerti sopan santun.
Tadi ia melihat Ye Tiancang datang jalan kaki, ia pun menepuk bahu Zhou Ting sambil berkata, “Adik, pastikan kamu antar Tian pulang dengan selamat.”
“Tidak bisa, Zhou Ting itu perempuan. Setelah mengantar dia, nanti pulang sendiri malam-malam, bahaya!” ujar Qitianan, seolah tergerak hati nuraninya. “Biar aku saja yang antar kalian naik mobil.”
Saat ia pergi mengambil mobil, Zhou Yan menatap Ye Tiancang dengan penuh rasa bersalah, “Maaf ya, Tian, memang wataknya Qitianan begitu, jangan dimasukkan ke hati.”
Ye Tiancang tidak berkata apa-apa, hanya menoleh ke Zhou Ting.
“Aku antar kamu pulang?”
“Iya.” Zhou Ting mengangguk manis.
Sesaat setelah mereka pergi, Qitianan datang dengan Audi A4L miliknya.
Tidak melihat jejak Ye Tiancang, ia pun mencibir, “Satpam kecil itu pergi kapan? Takut mobilku kotor, ya?”
Tiba-tiba, Ye Tiancang datang mengendarai Koenigsegg dan berhenti di sebelah Audi-nya.
Setelah menikmati ekspresi terpana Qitianan, ia pun pergi bersama Zhou Ting.
Sampai Koenigsegg itu menghilang dari pandangannya, Qitianan masih belum bisa percaya.
“Sial, mana mungkin orang yang bawa Koenigsegg cuma satpam. Kenapa aku bisa percaya omong kosong itu.”
Saat itu, Qitianan benar-benar menyesal.
Meski pikirannya sempit dan tidak jauh ke depan, tetapi ia tahu, Koenigsegg bukanlah mobil yang bisa dimiliki orang kaya biasa.
Sekarang ia sudah menyinggung seorang konglomerat, siapa yang tahu nasibnya ke depan bakal seperti apa.
Temannya yang berdiri di samping, dengan wajah iri menarik Zhou Yan.
“Zhou Yan, besok mobil pengantinnya jangan-jangan Koenigsegg itu?”
Tapi wajah Zhou Yan tetap datar, tidak terlihat bahagia sedikit pun.
“Mudah-mudahan bukan, kalau iya dan aku numpang sebentar, dijual pun aku tak sanggup bayar ganti rugi.”
...
Di dalam mobil, Zhou Ting menatap Ye Tiancang dengan mata berbinar.
“Tian, hari ini kamu benar-benar keren!”
Tingkah Ye Tiancang hari ini sungguh membuat Wang Bin dan Qitianan tak ada apa-apanya.
Baru saja dua orang itu kena mental, pasti tidak akan berani mengganggunya lagi.
Ye Tiancang dengan rendah hati menggaruk kepala, “Biasa saja, paling juga urutan ketiga di dunia.”
Zhou Ting melirik manja ke Ye Tiancang.
Melihat senyum tipis di sudut bibir Ye Tiancang, Zhou Ting merasa semakin terpikat, tanpa sadar ia pun menggenggam tangan Ye Tiancang.
Ye Tiancang sedikit terkejut, lalu menatap Zhou Ting dengan hangat.
...
Sementara itu, Liu Yan, tunangan Zhou Yan yang belum resmi menikah, sedang berdiskusi bersama beberapa sahabatnya tentang hari esok.
“Yan, besok Zhou Yan bakal pakai mobil apa buat menjemputmu?” tanya salah satu sahabatnya dengan penasaran.
“Tidak tahu, pokoknya kalau harganya di bawah satu miliar, aku tak mau naik. Besok dia tidak usah mimpi bisa menikahiku.”
“Hahaha, kamu ini standar rendah banget. Lihat saja Mengmeng dulu, mobil lima miliar saja masih dibilang kurang. Kalau bukan mertua kasih tambahan seratus juta, dia pun ogah naik.”
Wanita yang dipanggil Mengmeng itu mengangguk mantap.
“Tentu saja, aku punya teman yang waktu menikah dijemput Lamborghini delapan miliar. Masa aku harus kalah? Kalau tidak tambah uang, jangan harap bisa nikahin aku!”
“Yan, besok jangan lupa minta uang naik tandu, ya,” sahabatnya menggoda.
“Tentu saja, kalau mobilnya tidak sekelas itu, tidak ada uang naik tandu, aku suruh Zhou Yan pergi saja, terserah mau nikah sama siapa!”
Karena gengsi, Liu Yan pun membual di depan sahabat-sahabatnya.
...
Keesokan harinya, Ye Tiancang datang ke garasi bawah tanah Perumahan Tianceng dengan sepeda listrik.
Setelah menunggu beberapa saat, semua sopir yang dihubungi Zhou Ting pun tiba.
Ada yang tampak ramah, ada juga yang sombong, seolah-olah seluruh dunia berutang padanya.
Salah satu sopir muda berambut kuning menguap lebar, lalu menggerutu, “Gila, acaranya besar sekali, sampai aku harus bangun pagi dan menempuh jarak sejauh ini.”
“Sudahlah, jangan banyak bicara. Jaga-jaga saja saat mengemudi, jangan sampai baret atau lecet,” kata seorang sopir senior mengingatkan.
“Heh, cuma mobil saja, baret atau lecet, memang aku tidak mampu ganti?”
Sopir senior itu menggeleng pasrah, lalu menghampiri Ye Tiancang dan bertanya, “Bro, kamu yang urus mobil? Kami sudah lengkap, bisa berangkat sekarang?”
Ye Tiancang turun dari sepeda listrik, meregangkan badan, membuka sembilan pintu garasi, dan berkata santai, “Silakan pilih sendiri mau bawa yang mana.”
Saat melihat Mercedes C63 yang pertama, sopir muda itu masih tampak meremehkan.
Tapi setelah melihat deretan berikutnya, ia mulai sadar dirinya terlalu sempit pandang.
Begitu melihat Bugatti Veyron, matanya berbinar, lalu bertanya, “Bro, ini mobil sewa dari mana?”
Melihat gelagatnya, mungkin setelah selesai ia juga ingin menyewa sendiri.
Namun Ye Tiancang menggeleng, “Sewa apanya? Semua ini punyaku sendiri.”
Mendengar itu, para sopir spontan menarik napas panjang.
Mereka bukan tidak pernah lihat mobil mewah, tapi belum pernah lihat satu orang punya segudang mobil seperti itu.
Si sopir muda pun langsung menahan sikap sombongnya, dalam hati bersyukur semoga tadi ia tidak menyinggung Ye Tiancang.
...
Di keluarga Zhou, suasana sangat sibuk.
Seorang kerabat yang sudah tua terus mengatur orang-orang.
Melihat mobil belum datang, ia langsung menunjuk dua orang di depan pintu untuk mengawasi dan menyuruh Zhou Ting menelepon agar lebih cepat.
Salah satu yang ditugaskan mengawasi mobil adalah Qitianan, satunya lagi anak tetangga keluarga Zhou.
Begitu Qitianan bertemu anak kecil itu, kepalanya langsung pusing.