Bab delapan puluh tujuh: Tertipu
Ketika Ye Tiancheng meninggalkan perusahaan keluarga Chen, hari sudah menjelang senja. Ia merasa cukup emosional; suasana hatinya hari ini benar-benar naik turun. Hampir saja ia mengira tugasnya tak akan selesai dan harus menerima hukuman dari sistem. Namun setelah dipikir-pikir, entah kenapa tugas itu tiba-tiba saja selesai, tanpa alasan yang jelas. Kuncinya sepertinya ada pada Tie Yixin.
Saat itu Tie Yixin masih menunggu di depan pintu ruang operasi. Setelah berusaha seharian, operasi akhirnya selesai. Begitu melihat dokter keluar, Tie Yixin buru-buru bertanya, "Dokter, bagaimana hasil operasinya?"
Dokter bedah utama tampak sangat lelah, tapi ia tetap tersenyum kepada Tie Yixin dan berkata, "Tenang saja, semuanya berjalan lancar."
"Aku bilang juga apa, operasinya pasti tidak ada masalah. Sekarang kau bisa tenang, kan?" ujar Liu Zheng.
"Ya, terima kasih," jawab Tie Yixin sambil tersenyum sopan. Namun sebenarnya, ia agak jengkel pada Liu Zheng. Apa orang ini tidak punya pekerjaan? Seharian penuh menemaninya di depan ruang operasi.
Liu Zheng sendiri tidak tahu bahwa ia sudah dicap sebagai pengangguran oleh Tie Yixin. Perhatiannya sebenarnya tertuju pada lift, ingin melihat apakah Chen Jingyi datang. Tapi setelah menunggu dari siang hingga sore, baik Chen Jingyi maupun Ye Tiancheng tak kunjung muncul; hal itu membuatnya kecewa.
Di saat itulah, pintu lift tiba-tiba terbuka dan seorang pria dengan aura garang keluar dari dalam. Liu Zheng merasa senang dan segera menoleh ke arah lift.
"Bukankah itu... dia bukan..."
Tie Yixin pun melihat pria itu dan jantungnya berdebar. Kenapa dia datang?
Orang yang datang itu tak lain adalah Tu Shengjie. Ia mendekati Tie Yixin, tersenyum, lalu berkata, "Tenang, aku bukan datang untuk mencari masalah. Kau tidak percaya aku yang membayarkan uangnya, kan? Ini buktinya."
Tu Shengjie mendadak mengeluarkan bukti pembayaran. Melihat bukti itu, Liu Zheng agak bingung. Bukankah sebelumnya yang membayar biaya rumah sakit itu adalah pria yang bersama nona Chen?
Mengapa tiba-tiba malah jadi Tu Shengjie?
"Tie Yixin, aku benar-benar menyukaimu. Karena aku terlalu menyukaimu, mungkin caraku mengungkapkan perasaan jadi kurang tepat. Kuharap kau tidak takut dan bisa memahami perasaanku," ucap Tu Shengjie penuh ketulusan.
"Tapi dokter tadi bilang uangnya dibayarkan oleh temanku yang lain," Tie Yixin balik bertanya.
"Berani-beraninya kau bicara sembarangan?" Tu Shengjie menatap Liu Zheng dengan galak. Meskipun Liu Zheng tidak mengenal nona besar keluarga Chen, namun Tu Shengjie yang ada di depannya adalah orang terkenal yang reputasinya buruk. Jika sampai menyinggungnya, bisa-bisa besok ia celaka di jalan.
"Mungkin aku salah lihat..." Liu Zheng segera menunduk, tak berani menatap mata Tu Shengjie.
"Dengar, Yixin, aku sudah memenuhi janjiku padamu. Sekarang giliranmu."
Tie Yixin masih bingung. Apa benar Liu Zheng yang salah? Jika uang itu memang dari Tu Shengjie, bukankah ia harus...
Baru saja Tie Yixin hendak bicara, perawat mendorong keluar Tie Niu yang baru selesai operasi. Agar terlihat baik di hadapan Tie Yixin, Tu Shengjie segera berkata, "Ini kakak iparku, obat-obatan selanjutnya harus yang terbaik, semua biayanya tanggunganku."
Perawat hanya melirik Tu Shengjie, lalu tanpa berkata apa-apa mendorong Tie Niu ke kamar rawat.
Setelah itu, Tu Shengjie kembali bicara, "Yixin, kurasa perasaanku sudah cukup jelas. Kalau kau mau menerima, ambillah kartu kamar ini."
Ia mengeluarkan kartu kamar yang sudah dipersiapkan, dan menyodorkannya ke depan Tie Yixin.
Saat itu Tie Yixin sangat ragu karena ia sama sekali tidak ingin menerima kartu kamar tersebut. Ia sungguh tidak tahu harus berbuat apa.
Melihat situasi sudah hampir matang, Tu Shengjie menambah tekanan, "Lihat, setelah operasi kakakmu masih butuh banyak uang. Nanti semua biayanya akan aku tanggung."
"Saudara Tu, aku..."
Hati Tie Yixin sangat kacau. Jika uang itu benar dari Tu Shengjie, berarti ia dan kakaknya benar-benar berhutang budi padanya. Hutang sebesar itu, ia pun tak tahu harus membalas dengan cara apa.
Mengetahui Tie Yixin masih ragu, kesabaran Tu Shengjie mulai habis.
"Kalau kau tetap tidak mau, ya sudah. Lagipula, masalah kakakmu yang memukulku sudah sampai ke polisi. Kalau kau tidak ada hubungan denganku, aku juga tak punya alasan membantu kakakmu."
Nada bicara Tu Shengjie mulai mengancam. Mendengar itu, wajah Tie Yixin langsung pucat pasi, tak ada lagi waktu untuk menimbang-nimbang kebenaran masalah ini.
"Jangan, Saudara Tu, jangan biarkan polisi menangkap kakakku. Aku... aku setuju," ucap Tie Yixin dengan bibir gemetar, bahkan lehernya pun ikut memerah.
"Begitu dong. Tenang saja, urusan kakakmu akan aku bereskan. Aku juga tidak akan menyia-nyiakanmu," kata Tu Shengjie dengan gembira setelah Tie Yixin akhirnya setuju.
"Tapi bolehkah aku menunggu sampai kakakku sadar?" tanya Tie Yixin.
"Kalau dia sudah sadar, pasti ada perawat yang akan merawatnya. Lagi pula, aku bisa menunggu sebentar, tapi polisi tidak. Mereka harus segera menangani kasus ini," balas Tu Shengjie, kembali berusaha membujuk Tie Yixin.
Sejujurnya, Tu Shengjie sudah tidak tahan menunggu, ia ingin segera membawa Tie Yixin pergi.
"Jangan... jangan... aku... aku setuju," jawab Tie Yixin dengan suara lirih.
Melihat Tie Yixin akhirnya setuju, Tu Shengjie pun segera menariknya keluar dari rumah sakit.
Setelah Tu Shengjie pergi, Liu Zheng akhirnya bisa bernapas lega. "Untung saja aku tidak menyinggung Saudara Tu, kalau tidak, nyawaku bisa melayang."
Benar, menyinggung Chen Jingyi paling-paling hanya kehilangan pekerjaan. Tapi kalau menyinggung Tu Shengjie, bisa kehilangan nyawa.
Liu Zheng memilih tetap menunggu di sana. Hari ini memang hari liburnya, jadi ia bisa berada di rumah sakit sepanjang hari. Ia menemani Tie Yixin karena berharap bisa bertemu Chen Jingyi, lalu berbicara baik-baik agar dimaafkan.
Ia tak percaya, Chen Jingyi dan pria yang bersamanya rela membayarkan biaya pengobatan Tie Yixin sebesar tiga ratus lima puluh ribu tanpa menjenguknya.
Soal Tu Shengjie yang menipu Tie Yixin, itu bukan urusannya. Yang penting ia menjaga keselamatannya sendiri.
Sekitar sepuluh menit kemudian, terdengar suara langkah kaki dari belakang.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Liu Zheng menoleh dan langsung senang; ternyata penantiannya tak sia-sia.
"Saudara, akhirnya kau datang juga. Kau membuatku... eh, bukan, aku datang untuk mengunjungi saudara Tie Niu, operasinya sangat lancar."
Ye Tiancheng sendiri sama sekali tidak khawatir soal kondisi Tie Niu. Baginya, penyakit itu tidak serius, selama ada uang untuk operasi, pasti bisa diatasi.
"Oh, lalu di mana Yixin?" Ye Tiancheng melirik ke sekeliling, tidak menemukan Tie Yixin.
"Dia..." Liu Zheng tampak ragu, tidak tahu harus berkata jujur atau tidak tentang Tie Yixin yang dibawa pergi oleh Tu Shengjie.