Bab Seratus Dua Puluh Empat: Perubahan Sikap
Pelayan hotel itu mungkin baru pertama kali menemui pelanggan yang seaneh Zhang Tiantian. Sesaat, ia bingung harus berbuat apa, namun tetap berusaha memberikan penjelasan dengan sabar.
Akan tetapi, Zhang Tiantian sama sekali tidak mendengarkan. Ia justru berkata dengan angkuh, "Panggil manajer kalian ke sini."
Pelayan itu tersenyum kecut. Jika manajer dipanggil, sudah pasti tamu ini berniat untuk mengadukannya.
"Ini..."
Di saat pelayan itu merasa serba salah, Ye Tiancheng tiba-tiba angkat bicara, "Tidak apa-apa, berikan saja paket pijat dengan standar tertinggi."
Mendengar ucapan Ye Tiancheng, sudut bibir Zhang Tiantian terangkat, membentuk senyum licik karena rencananya berhasil. Namun, setelah pemijat datang dan baru melakukan pekerjaannya sebentar, Zhang Tiantian kembali berkata dengan tidak sabar, "Aku tidak mau dipijat lagi. Kita keluar saja untuk jalan-jalan, nanti malam saja kalau sudah kembali baru dilanjutkan."
Pelayan pemijat itu tersenyum kecut. Pekerjaan baru saja berjalan setengah jalan, tiba-tiba berhenti. Bagaimana cara menagih biayanya?
"Tidak apa-apa, apa kau takut kami tidak membayar? Temanku ini yang akan melunasinya," ucap Yang Quan sambil menunjuk ke arah Ye Tiancheng.
Ye Tiancheng seketika paham. Ternyata mereka berdua bersekongkol ingin menjebaknya agar mengeluarkan banyak uang. Namun, Ye Tiancheng tidak menunjukkan ketidaksenangannya. Ia hanya mengangguk kepada pemijat itu dan berkata, "Silakan pergi dulu, nanti semuanya akan saya lunasi sekaligus."
Setelah pemijat itu pergi, Zhang Tiantian kembali berulah. Dengan nada meremehkan, ia berkata, "Ternyata hotel mewah di Xingdu ini hanya seperti ini saja."
Yang Quan yang berada di sampingnya menyetujui, "Pada akhirnya semua tergantung seberapa banyak uang yang dikeluarkan. Kapan-kapan kalian pergi ke tempat kami, aku jamin akan mengatur segalanya dengan sempurna."
Zhou Ting tersenyum kecut, namun tetap bertanya dengan sopan, "Ngomong-ngomong Tiantian, kalian ingin pergi ke mana?"
"Ke mana saja boleh, tergantung ke mana satpammu ini akan membawa kita," ujar Zhang Tiantian dengan nada menyindir.
"Sudahlah, dia sudah memesan kamar dan mentraktir kita makan, uangnya pasti sudah hampir habis. Biar aku saja yang mentraktir kalian jalan-jalan, suruh saja dia kembali bekerja. Tingting, kamu mau pergi ke mana?" ucap Yang Quan sambil menatap Ye Tiancheng dengan tatapan menghina.
Mendengar hal itu, Ye Tiancheng langsung merasa tidak senang. Ternyata si Yang Quan ini sedang mendekati Zhou Ting.
Dirinya selama ini bersabar demi menjaga perasaan Zhou Ting, namun orang ini malah semakin menjadi-jadi. Oleh karena itu, wajah Ye Tiancheng tiba-tiba menunjukkan senyum aneh, "Kenapa, apa aku harus kembali bekerja dan tidak boleh ikut bersenang-senang?"
"Kawan, aku hanya ingin menjaga harga dirimu. Bagaimanapun, ini adalah wilayahmu. Kalau kita pergi jalan-jalan dan aku yang membayar, itu tidak enak untukmu. Tapi kalau kamu yang bayar, uangmu pasti sudah habis," ujar Yang Quan meremehkan.
Meskipun di permukaan ia terlihat seperti sedang menjaga harga diri Ye Tiancheng, setiap kata yang diucapkannya jelas merendahkan Ye Tiancheng sebagai seorang pria miskin.
"Memangnya hanya kamu yang punya uang?"
"Bukan begitu, setidaknya aku jauh lebih kaya daripada seorang satpam," sindir Yang Quan dengan tawa dingin.
"Heh, dunia ini selalu saja ada orang yang memandang rendah profesi satpam. Padahal, martabat seseorang tidak ditentukan oleh pekerjaannya," balas Ye Tiancheng dingin.
"Tingting, lihat pacarmu itu. Yang Quan bicara begitu supaya dia punya motivasi, tapi dia malah membalas dengan kata-kata sinis," Zhang Tiantian segera melemparkan kesalahan kepada Ye Tiancheng. "Kalau bukan karena dia pacarmu, aku bahkan tidak sudi bicara dengannya," tambahnya dengan nada jijik.
"Benar sekali. Ada orang-orang yang sejak lahir memang berasal dari dunia yang berbeda. Sebaiknya mereka tahu diri," Yang Quan melirik Ye Tiancheng, benar-benar tidak menganggapnya ada.
Setelah itu, ia mengabaikan Ye Tiancheng dan berkata kepada Zhou Ting, "Sepertinya hotel ini punya kolam renang dalam ruangan, bagaimana kalau kita berenang saja?"
Zhou Ting melirik Ye Tiancheng, baru saja ingin membela, Yang Quan sudah memotong ucapannya. "Jangan pedulikan dia. Mau ikut atau tidak, terserah saja. Lagipula kalau dia ikut, dia pasti akan mengeluarkan uang lagi."
Ye Tiancheng tertawa dingin, "Soal uang, itu urusanku. Pakai uangku sendiri, bukan uangmu, jadi tidak perlu banyak bicara."
Ketika sampai di kolam renang, staf di pintu memberi tahu mereka bahwa fasilitas itu tidak dibuka untuk umum.
"Kenapa kami tidak boleh masuk? Kami bukan tidak mau membayar!"
"Ini tidak ada hubungannya dengan uang. Tempat kami hanya terbuka untuk tamu VIP," jelas staf tersebut dengan sabar.
Namun, Zhang Tiantian membentak dengan kasar, "Aku tidak peduli! Kami sudah sampai di sini, aku harus masuk!"
Zhou Ting hanya bisa terdiam melihat kelakuan sahabatnya yang tidak masuk akal itu, ia heran mengapa temannya bisa menjadi seperti ini. Dalam keadaan terdesak, Ye Tiancheng mengirim pesan singkat kepada Chen Silü.
Tak lama kemudian, staf tersebut menerima telepon, dan sikapnya berubah 180 derajat. "Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, silakan masuk."
Zhang Tiantian bertanya dengan bingung, "Tadi bukannya dilarang masuk? Kenapa tiba-tiba diizinkan?"
Yang Quan tidak ambil pusing dan berkata dengan sombong, "Pasti mereka takut karena kita membuat keributan, jadi mereka mengalah."
Saat berada di ruang ganti, Yang Quan menatap Ye Tiancheng dan bertanya, "Kawan, apa menurutmu kamu pantas untuk Zhou Ting?"
Ye Tiancheng menjawab ketus, "Pantas atau tidak, itu urusan kami. Sepertinya tidak ada hubungannya denganmu, bukan?"
"Heh, kawan. Berapa sih gaji bulananmu sebagai satpam? Lima puluh ribu setahun pun mungkin tidak sampai, kan? Begini saja, aku akan transfer seratus ribu. Tinggalkan Zhou Ting dan berikan dia padaku, bagaimana?" Yang Quan mengeluarkan ponselnya, siap mentransfer uang itu jika Ye Tiancheng setuju.
Di mata Yang Quan, Ye Tiancheng hanyalah seorang satpam rendahan yang pasti akan tunduk di hadapan uangnya. Namun, wajah Ye Tiancheng seketika mendingin, suhu di sekitar mereka seolah merosot drastis.
Ia menatap tajam ke arah Yang Quan dan berkata dengan dingin, "Tarik kembali kata-kata dan pikiran kotormu itu. Kalau tidak, aku tidak bisa menjamin kamu bisa meninggalkan Xingdu dengan selamat."
Melihat tatapan tajam Ye Tiancheng, Yang Quan gemetar ketakutan dan langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Setelah Ye Tiancheng pergi, barulah ia berani mengumpat ke arah punggung pria itu, "Sialan, hanya seorang satpam bau, beraninya berlagak!"
Saat Ye Tiancheng tiba di kolam renang, Zhou Ting sudah mengganti pakaian renangnya dan sedang menunggu. Melihat kulit putih mulus serta lekuk tubuh Zhou Ting yang indah, Ye Tiancheng merasa hidungnya panas, hampir saja mimisan.
Meskipun Zhang Tiantian juga memiliki tubuh yang cukup bagus, namun dibandingkan dengan Zhou Ting, ia terlihat kalah telak. Mungkin karena aura keduanya memang sangat berbeda.
Setelah berenang beberapa saat, Ye Tiancheng duduk di kursi santai untuk beristirahat. Yang Quan, dengan mata yang terus berputar-putar, mendekatinya dengan niat yang tidak jelas.
Setelah sampai di samping Ye Tiancheng, Yang Quan menatap Zhou Ting yang sedang berada di kolam renang dan berbisik, "Ehem, kawan, aku benar-benar menyukai Zhou Ting. Bagaimana kalau aku beri seratus lima puluh ribu, kamu serahkan dia padaku?"