Bab Seratus Lima Belas: Sikap yang Buruk
Setelah Yu Mengting pergi, Ye Tiancheng melanjutkan tidurnya dan baru bangun menjelang siang.
Saat ia baru saja tiba di depan lift, ia kembali bertemu dengan pasangan muda yang sebelumnya ia temui di Hotel Tangyun. Ketika pasangan itu melihat Ye Tiancheng, mata mereka langsung membelalak.
"Mas, semalam Anda di kamar 1888?"
"Kebetulan sekali, kalian semalam lagi-lagi di sebelah kamar saya?"
...
Saat Ye Tiancheng sampai dengan santai di tempat kerjanya, waktu sudah hampir menunjukkan pukul satu siang. Ketika ia sedang berjongkok di depan pintu sambil berjemur, ia melihat Sun Qi berjalan melewatinya dengan wajah yang penuh kesedihan.
Ye Tiancheng segera memanggilnya. "Kak Qi, ada apa? Mengapa wajahmu tampak begitu muram?"
"Aduh, Fengfeng lagi-lagi diintimidasi orang," keluh Sun Qi sambil menghela napas.
"Fengfeng diintimidasi? Apakah gurunya tidak bertindak? Sudahlah, saya ikut denganmu saja!"
Ye Tiancheng sangat menyayangi putra Sun Qi, Fengfeng. Mendengar anak itu diintimidasi, ia langsung menawarkan diri untuk menemani Sun Qi pergi ke taman kanak-kanak.
...
Setika mereka tiba di taman kanak-kanak, mereka mendapati wajah Fengfeng terluka. Begitu melihat ibunya, Fengfeng langsung menangis dan memeluk Sun Qi dengan penuh rasa sedih.
Melihat pemandangan itu, hati Ye Tiancheng terasa perih, apalagi Sun Qi yang merasa jauh lebih hancur.
"Guru, apakah Anda tahu apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sun Qi dengan kening berkerut.
"Anak kecil bertengkar itu hal yang wajar, bukan? Sekolah ini punya begitu banyak murid, mana mungkin kami bisa mengawasi mereka satu per satu? Kalau tidak senang, silakan pindah sekolah saja!" sahut guru itu dengan nada ketus, seolah sedang menelan mesiu.
"Sikap macam apa itu?" Wajah Sun Qi langsung berubah masam. Anaknya sudah terluka, namun alih-alih memberi penjelasan, guru itu justru melempar tanggung jawab.
"Kenapa dengan sikap saya? Sikap saya sudah normal. Saya hanya bicara apa adanya. Anak Anda hanya luka sedikit, tidak sampai kehilangan lengan atau kaki," guru itu memutar bola matanya dengan tidak sabar.
"Inikah sikap sekolah kalian? Di mana kepala sekolahnya?" Ye Tiancheng mulai habis kesabarannya.
"Kantor kepala sekolah ada di lantai lima. Cari saja sendiri kalau mau," jawab guru itu, lalu berbalik dan membanting pintu kantor hingga tertutup, meninggalkan Ye Tiancheng dan Sun Qi di luar.
Sun Qi marah hingga wajahnya memerah dan matanya berkaca-kaca. Sebagai seorang ibu tunggal, ia merasa selama ini telah banyak kekurangan dalam merawat anaknya. Kini, saat anaknya dipukul, ia bahkan tidak bisa mendapatkan keadilan.
Melihat ibunya seperti itu, Fengfeng yang penurut menghapus air matanya dan berkata, "Ibu, jangan menangis, Fengfeng tidak apa-apa."
Melihat betapa pengertiannya sang anak, air mata Sun Qi justru semakin deras mengalir.
"Saya akan mencari kepala sekolah untuk meminta pertanggungjawaban!" Ye Tiancheng berjalan dengan penuh amarah menuju kantor kepala sekolah.
Ia menceritakan kejadian tersebut, namun kepala sekolah itu justru menanggapi dengan datar, "Lantas apa yang Anda inginkan? Jika ingin pindah sekolah, saya bisa bantu urus administrasinya sekarang juga."
Mendengar jawaban itu, Ye Tiancheng akhirnya mengerti mengapa guru tadi bersikap seperti itu. "Pantas saja sikap gurunya begitu buruk, ternyata Anda yang menjadi sandarannya!"
Kepala sekolah itu tersenyum sombong, "Memangnya kenapa dengan sikap saya? Menurut saya sudah cukup baik. Anak-anak bertengkar itu bukan masalah besar. Apa Anda mau saya mencari anak yang memukul itu agar bisa Anda pukul balik?"
Ye Tiancheng merasa sangat geram hingga tak bisa berkata-kata. "Baik! Kalau begitu, saya tidak punya pilihan selain melaporkannya ke pihak berwenang!"
"Silakan saja. Tapi jangan salahkan saya jika tidak mengingatkan, sekolah ini berada di bawah naungan Grup Tangyun. Jika Anda menyinggung Grup Tangyun, pikirkan sendiri apa akibatnya," ancam kepala sekolah itu dengan senyum meremehkan.
"Grup Tangyun?" Ye Tiancheng tertegun sejenak, lalu tertawa getir. Ternyata ini sandarannya. Kalau begitu, masalahnya jadi lebih mudah; ia hanya perlu menghubungi Chen Silü untuk menyelesaikannya.
"Benar. Dan satu nasihat untuk Anda, ayah dari anak yang memukul itu adalah pejabat tinggi di Grup Tangyun. Saya rasa tidak perlu saya jelaskan lebih jauh lagi."
"Jika sudah paham, saya sarankan simpan tenaga Anda agar tidak mendapat masalah besar di kemudian hari."
"Jadi maksud Anda, setelah anak saya dipukul, saya harus diam saja? Jika tidak, saya dianggap mencari masalah?" Ye Tiancheng tertawa sinis.
"Saya tidak bilang begitu, itu pemahaman Anda sendiri. Kalau Anda bersikeras ingin menemui orang tua anak itu, saya bisa memanggilnya untuk Anda," kata kepala sekolah itu dengan acuh tak acuh. Ia ingin memberi tahu Ye Tiancheng bahwa orang tersebut adalah sosok besar yang sibuk, dan jika Ye Tiancheng nekat mengganggunya karena masalah sepele, ia akan menyesal nantinya.
"Baiklah! Panggil dia ke sini, saya ingin dengar apa penjelasannya."
Kepala sekolah itu mencibir dengan nada menghina, "Anda pikir dia punya waktu untuk meladeni Anda? Dia adalah petinggi Grup Tangyun, mana mungkin punya waktu untuk orang seperti Anda."
"Kalau begitu, saya akan menunggu saat jam pulang sekolah ketika mereka menjemput anaknya," sahut Ye Tiancheng dengan tatapan tajam.
"Terserah Anda. Saya sudah katakan semuanya, tanggung sendiri risikonya," ucap kepala sekolah itu dengan tatapan merendahkan, apalagi melihat Ye Tiancheng masih mengenakan seragam petugas keamanan.
"Saya pun menyarankan Anda untuk berhati-hati. Jangan sampai menilai orang hanya dari penampilannya!"
"Sialan, memangnya kau ini siapa? Saya belum pernah melihat orang tua yang tidak tahu sopan santun seperti Anda," umpat kepala sekolah itu.
"Saya hanyalah seorang petugas keamanan," Ye Tiancheng merentangkan tangan dengan senyum dingin.
"Melihat seragam itu, kau pasti petugas keamanan di Kompleks Tiancheng, kan? Saya kenal baik dengan pemilik perusahaan pengelola properti di sana. Percayalah, satu kata saja dari saya, besok kau akan dipecat!" ancam kepala sekolah itu.
"Benarkah? Kalau begitu, saya ingin melihat apakah Anda masih bisa menjabat sebagai kepala sekolah sebelum saya dipecat besok!" Ye Tiancheng membanting pintu kantor kepala sekolah dan bergegas turun.
Di lantai bawah, ia melihat Sun Qi sedang memeluk Fengfeng dengan penuh kasih sayang.
"Bagaimana kata kepala sekolah?" tanya Sun Qi saat melihat Ye Tiancheng datang.
Ye Tiancheng menggeleng, "Sama saja sifatnya dengan guru itu."
Sun Qi menghela napas pasrah dan hendak membawa Fengfeng pergi.
"Tunggu sebentar, kita tunggu sampai jam pulang sekolah. Kita lihat apa yang akan dikatakan orang tua anak itu."
Sun Qi menggeleng pelan, "Tidak ada gunanya. Ini bukan pertama kalinya. Saat Fengfeng dipukul sebelumnya, saya sudah menghubungi ibunya melalui pesan singkat, namun bukannya mengakui kesalahan, dia justru menyalahkan Fengfeng yang dianggap memancing anaknya terlebih dahulu."
Mendengar itu, Ye Tiancheng mencibir, "Begitu ya? Kalau begitu, saya ingin lihat sehebat apa orang tua itu!" Ia mengambil alih gendongan Fengfeng dari Sun Qi dan berkata, "Fengfeng, tenang saja. Kakak Tian akan mencarikan keadilan untukmu. Bagaimana kalau kakak belikan makanan enak dulu?"