Bab 16: Kipas Angin Ajaib
Tampaklah Rong Chi, di bawah tatapan penasaran ketiga orang itu, perlahan mengulurkan satu jari dan menekan tombol bernomor satu. Terdengar suara "klik...", tiga bilah seperti daun di dalam alat itu mulai berputar dengan cepat.
Mereka terkejut melihat helaian rambut Rong Chi terangkat, dan wajahnya tampak begitu menikmati. Ketiganya memberanikan diri mendekat, berdiri di belakang Rong Chi, merasakan angin sepoi-sepoi menerpa pipi mereka.
Mereka sangat takjub.
"Jadi ini yang disebut kipas angin listrik? Benar-benar aneh. Jauh lebih praktis daripada mengipasi dengan tangan," ujar Qing Feng.
Qing Xiao berseru heran, "Dengan alat ini, sepertinya Yang Mulia tidak perlu lagi pergi ke istana musim panas untuk menghindari panas."
Satu per satu mereka mengungkapkan keterkejutan mereka.
Rong Chi kembali maju menekan tombol kedua, sengaja membuat ketiga orang itu semakin iri dengan barang bagus yang diberikan Jian Wan padanya.
Tingkat kedua lebih kuat daripada yang pertama. Artinya, semakin besar angka, semakin besar pula anginnya.
Benar-benar alat yang luar biasa untuk mengusir panas di musim panas!
Ketiganya sangat terkejut.
Mereka mengira alat itu sudah cukup ajaib, namun tak disangka Rong Chi kembali maju dan menekan tombol terakhir, menyebabkan kipas angin itu mulai berputar ke kiri dan kanan dengan sendirinya.
Lebih lincah daripada manusia dan tak pernah lelah.
"Astaga, ini benar-benar luar biasa, bisa berputar sendiri tanpa digerakkan manusia. Dewa Agung itu sungguh patut disembah," ujar Qing Feng dengan penuh semangat, hampir saja berlutut.
Ketiganya benar-benar kagum hingga tak bisa berkata-kata.
Rong Chi tersenyum penuh kebanggaan dan berkata, "Ada dua kipas seperti ini, semuanya hadiah dari orang bijak itu." Iri kan? Cemburu kan? Ini adalah pemberian Jian Wan untuknya, tidak ada yang lain yang punya.
Begitu teringat Jian Wan, Rong Chi langsung terbayang sosoknya semalam yang berpakaian tipis, membuat hatinya berdebar hangat.
"Dua buah? Lalu... apakah yang satu ini bisa..." Qing Feng menatap Rong Chi dengan penuh harap.
"Tidak bisa," jawab Rong Chi tegas. Lalu ia mengusir mereka, "Sudah, keluar semuanya. Jangan kira aku sedang baik hati hari ini lalu kalian jadi semaunya."
Setelah mengusir mereka, Rong Chi berbaring di ranjang, menikmati angin sejuk, dan segera tertidur.
Entah mengapa, kali ini ia bermimpi tentang Jian Wan.
Dengan wajah memerah, ia berkata padanya bahwa ia ingin memperistrinya. Ia kira Jian Wan akan menolak, tapi ternyata ia justru mengiyakan dengan sangat mudah.
Mereka pun mengadakan upacara pernikahan sederhana di toko. Jian Wan mengenakan gaun pengantin merah dan mahkota phoenix yang disiapkannya sendiri, tampak anggun dan bermartabat.
"Apa yang sedang dimimpikan Yang Mulia? Senyumnya bahagia sekali," tanya Qing Xiao penasaran sambil mendekat.
"Kelihatannya seperti sedang menikah," sahut Qing Yu.
"Sepertinya memang begitu. Waktu sepupuku menikah dulu juga tertawa sebahagia ini."
"Kenapa bengong, ayo panggil orangnya," ujar Qing Yu sambil menyikut Qing Feng yang tersenyum seperti orang bodoh.
Qing Feng mundur ketakutan, "Qing Xiao saja yang panggil, aku mana berani? Aku tak mau menggangu Yang Mulia di saat bahagia begini."
Qing Xiao pun takut dan mundur dua langkah. Ia berkata, "Bagaimana kalau kita tunggu sampai Yang Mulia masuk kamar pengantin baru kita panggil?"
Qing Yu menepuk kepala Qing Xiao, "Aku bilang menikah, kau benar-benar percaya? Yang Mulia saja belum punya gadis pujaan, mana mungkin menikah? Naik keabadian mungkin iya. Cepat panggil, kalau tidak nanti terlambat, kalau Dewa Agung menunggu terlalu lama, kita bisa celaka."
Qing Xiao dengan berat hati maju. Jelas-jelas Yang Mulia sedang menikah, masa ia harus diganggu?
Tapi ia tak bisa menolak. "Yang Mulia, Yang..."
Di atas ranjang, Rong Chi terbangun oleh suara mereka, membuka mata dengan tatapan yang aneh. Ketiganya langsung mundur bersamaan.
Rong Chi benar-benar marah. Ia sudah hampir membuka cadar pengantin Jian Wan dalam mimpinya, tapi malah dibangunkan oleh mereka. Siapa yang tidak kesal?
"Eh, Yang Mulia, sebentar lagi tengah malam. Toko Misterius itu..."
Niat Rong Chi untuk memarahi mereka langsung reda begitu mendengar tentang Toko Misterius.
"Ayo," katanya sambil keluar kamar dengan wajah cemberut.
Ketiganya saling berpandangan, menepuk dada menahan takut, lalu segera menyusul.
Korban bencana terlalu banyak, setiap hari beras yang diambil dari Toko Misterius hanya cukup untuk kebutuhan hari itu saja.
"Bagaimana kabar dari Jenderal Lin?" tanya Rong Chi di perjalanan.
"Belum ada kemajuan. Namun, orang kita melihat Wei Cheng sering pergi ke sebuah rumah. Kami sudah selidiki, di sana tinggal seorang perempuan." Mungkin wanita simpanan Wei Cheng.
"Awasi rumah itu baik-baik. Jangan lewatkan hal mencurigakan sedikit pun. Sangat mungkin Liu Dequan memindahkan uang bencana ke tangan Wei Cheng."
Qing Yu mengangguk.
Dengan menunggang kuda di tengah malam, mereka segera sampai di Bukit Sepuluh Li. Tepat saat tengah malam, lampu di toko Jian Wan pun menyala.
Qing Yu dan yang lain tak bisa melihat toko yang terang, hanya melihat Rong Chi turun dari kuda dan berjalan cepat ke depan. Baru beberapa langkah, ia pun menghilang.
Tak lama kemudian, Rong Chi keluar dengan langkah lebar dan santai menyodorkan sebuah kantung ke tangan Qing Yu.
"Apa ini?" tanya Qing Yu heran.
"Obat penyembuh luka," jawab Rong Chi.
Mendengar itu adalah obat penyembuh luka dari Dewa, mereka semua sangat gembira. Tadi malam, Dewa pasti melihat luka mereka, maka malam ini diberi obat.
Semua obat ini adalah anugerah dari Dewa.
Mereka pun terharu hingga meneteskan air mata.
Di dalam ruangan, hati Rong Chi sangat senang. Sebab hari ini Jian Wan mengenakan gaun merah.
Meski modelnya tak bisa menandingi gaun pengantin dan mahkota phoenix, tapi warnanya sangat pas.
Baru saja bermimpi melihat Jian Wan memakai gaun merah, kini ia benar-benar mengenakannya. Apakah ini pertanda jiwa mereka saling terhubung?
Takdir, memang!
Hari ini Jian Wan tak lagi menampakkan bahu seperti semalam, membuat suasana hati Rong Chi semakin baik.
"Makan pangsit dulu, ini kubuat sendiri," ujar Jian Wan. Hari ini ia tidur seharian di toko, menebus kekurangan tidur beberapa hari terakhir.
Mulai besok, ia harus membuka toko sebentar di siang hari, agar tak menimbulkan kecurigaan tetangga.
Rong Chi tak tahu apa itu pangsit, tapi begitu tahu itu buatan Jian Wan sendiri, ia tampak sangat bahagia.
"Baik. Bisa mencicipi masakan Nona Jian adalah suatu kehormatan," ujarnya, apalagi malam ini ia belum makan.
Jian Wan masuk ke dapur dan tak lama membawa sepiring besar pangsit beserta dua piring saus.
Rong Chi tertarik pada pangsit yang dikatakan Jian Wan, bentuknya mirip jiaoer dari Dayu, tapi tampak lebih menggugah selera dan sepertinya sangat enak.
"Kau ambil satu dengan sumpit, celupkan ke saus seperti ini," ujar Jian Wan sambil memperagakan. Lalu ia membuka mulut lebar-lebar dan memasukkan pangsit.
Perempuan Dayu biasanya makan dengan suapan kecil, sangat jarang ada yang setegas Jian Wan. Kebanyakan pria tak suka perempuan yang terlalu berani tampil, apalagi makan dengan mulut besar seperti itu.
Menurut mereka, itu adalah perilaku kasar dan tak sopan.
Namun, semua itu pada Jian Wan justru terasa jujur, tulus, juga menggemaskan.
"Rasanya enak sekali!" Rong Chi meniru cara Jian Wan, dan memang, baik saus maupun isi daging di dalam pangsit, semuanya lezat.
Bisa menyaingi mie instan yang harum itu.
Meski ia adalah putra mahkota yang pernah mencicipi segala makanan mewah, tapi makanan seenak ini baru pertama kali ia rasakan, pantas saja ia memberikan pujian tertinggi.
Jian Wan memasukkan daging babi cincang dan daun bawang, favoritnya. "Kalau cocok di lidahmu, aku senang," ucapnya. Ia khawatir Rong Chi tak suka masakannya.
Rong Chi makan dengan perlahan, sementara Jian Wan makan jauh lebih cepat. Setelah makan dua belas buah, ia tak sanggup lagi. Masih tersisa sekitar sepuluh di piring.
"Sisanya untukmu, jangan sampai terbuang, membuang makanan itu memalukan."
Rong Chi tertegun sejenak. Kalimat membuang makanan itu memalukan membuatnya berpikir. Jika membuang makanan dinyatakan sebagai pelanggaran dalam hukum Dayu, para pejabat kaya raya tak akan berani lagi menyia-nyiakan makanan. Dengan begitu, lebih banyak rakyat yang bisa terbantu.
Rong Chi pun mendapat ide dari situ.
Saat beristirahat, Jian Wan bertanya tentang perkembangan penanggulangan bencana, "Bagaimana persiapan urusan pascabencana?"