Bab Seratus Dua Puluh Empat: Celah Ingatan
“Nono, Fuyian, Tien Shao, Yu Ba… diri sendiri, keluarga, kemanusiaan, etika. Hehe, Kak Jing, keempat instruktur yang memimpin kali ini tampaknya menyimpan kisah masing-masing, ya…”
Di dalam kepala boneka gurita raksasa, seorang pemuda yang terendam dalam cairan nutrisi terkekeh sambil mengangkat kepala. Ia menatap keempat instruktur yang sedang tertidur lelap, seolah baru saja menemukan mainan kesayangannya. Raut wajahnya memancarkan kegembiraan yang tak tersamarkan.
Nono dan yang lainnya telah dipaksa membuka ingatan terdalam mereka. Maka, meskipun berada dalam tidur lelap, tubuh mereka tetap terus mengejang dan meronta, menanggung penderitaan yang luar biasa.
“Namun, orang yang paling menarik seharusnya adalah yang satu ini…”
Setelah berkata demikian, sang pemuda mengarahkan pandangannya kepada Muyou, yang sedang tertidur dengan damai.
“Ingatan macam apa ini? Aku bahkan sudah merasa begitu bersemangat hingga tubuhku mengejang, padahal belum menyelidikinya. Kalau begitu, mari kita semua menyaksikannya bersama-sama!”
Seiring gumaman pemuda itu, pemandangan di hadapan Muyou kembali berubah drastis.
Suram. Tetap suram.
Dari kejauhan terdengar samar suara bola yang jatuh ke tanah dan anak-anak yang bermain. Di sebuah sudut alun-alun, seorang anak laki-laki yang kesepian diam-diam memunguti kerikil di dekat kakinya, lalu melemparkannya satu demi satu.
“Hei, kau bisa bermain bola? Ayo bermain bersama!”
Terdengar langkah kaki kecil yang berlari mendekat, disusul suara kanak-kanak yang penuh kegembiraan. Mendengarnya, anak laki-laki itu seketika tertegun. Semangat yang kuat tumbuh dalam hatinya, tetapi tak lama kemudian semangat itu mengempis seperti bola yang kehilangan udara, dan ia kembali terkulai di tempat.
“Aku… aku tidak bisa bermain bola…”
Dengan wajah yang sangat murung, anak laki-laki itu menjawab. Namun, dari lubuk hatinya perlahan tumbuh sedikit harapan. Ia berharap anak di hadapannya akan tertawa riang dan berkata, “Kalau begitu, biar aku mengajarimu.”
Akan tetapi, anak itu hanya menatapnya dengan heran.
“Yang benar saja! Kau bahkan tidak bisa bermain bola? Memangnya tidak ada yang pernah mengajarimu?!”
Setelah berkata demikian, anak itu berlari menjauh sambil menoleh ke belakang, memandangnya dengan tatapan yang sama sekali tidak mengerti.
Anak laki-laki itu menundukkan kepala dengan sedih, lalu bergumam dengan suara yang nyaris hanya dapat didengar oleh dirinya sendiri.
“Tidak ada yang mengajariku. Aku yatim piatu. Sejak kecil sampai sekarang, aku selalu sendirian. Semua hal, bahkan makan dengan sumpit, kupelajari sendiri dengan meniru orang lain…”
Ia memeluk kepalanya. Kerikil-kerikil di tangannya berjatuhan satu demi satu. Anak itu menatap debu yang beterbangan dari tanah, lalu terdiam dalam kebisuan.
“Andai ada seseorang yang mau menemaniku…”
Langit perlahan menjadi gelap. Anak-anak yang tadi bermain dibawa pulang satu demi satu oleh orang tua mereka, menyisakan sebuah bola yang telah rusak karena ditendang. Bola itu tergeletak sendirian di genangan lumpur.
Anak laki-laki itu berdiri dan melangkahkan kakinya yang terasa mati rasa. Ia berjalan ke sebuah lubang berisi air, lalu membungkuk dan dengan hati-hati mengangkat bola dari dalamnya. Pemandangan itu terasa begitu akrab bagi Muyou. Tepat ketika anak itu menundukkan kepala, bukan hanya Muyou, melainkan semua orang transparan yang hadir di sana, dapat melihat dengan jelas siapa anak laki-laki itu.
Muyou.
Muyou kecil meletakkan bola yang basah di atas tanah. Ia menggulingkannya beberapa kali hingga seluruh air yang menempel terserap oleh tanah, lalu mengangkatnya dengan kedua tangan. Meniru cara anak-anak tadi bermain, ia memantulkan bola itu ke atas dan ke bawah, kemudian tertawa bahagia.
Muyou tiba-tiba melemparkannya jauh-jauh. Ia memandangi bola yang melayang ke kejauhan, jatuh ke tanah, memantul, lalu kembali jatuh. Begitu terus berulang-ulang hingga bola itu menghilang sangat jauh.
Saat menatap bola yang hampir tak terlihat, senyum Muyou perlahan memudar. Tak ada seorang pun yang akan menangkap bola itu. Apa artinya bermain sendirian?
Tampaknya, dirinya memang tidak akan pernah bisa berbaur dengan orang lain. Ada hal-hal yang memang selamanya tidak cocok untuknya.
Inilah takdir seorang yatim piatu.
Andai saja ada seseorang yang mau menemaninya.
Uap air di udara semakin pekat. Bersamaan dengan langit yang kian kelabu, suara guntur dari kejauhan pun terdengar semakin berat. Hujan tipis mulai turun dari langit.
Muyou tertegun sejenak, lalu sedikit menyipitkan mata. Air hujan yang dingin terasa sejuk ketika membasahi wajahnya, sekaligus melarutkan lumpur yang melekat di sana. Rasanya sungguh nyaman.
Anak-anak tadi mungkin sudah diminta orang tua mereka untuk mencuci tangan dan makan malam.
Memikirkan hal itu, perut Muyou mulai berbunyi keroncongan. Ia mengulurkan tangan kecilnya yang kotor, menampung air hujan, lalu menggosok-gosok tangannya dengan hati-hati. Namun, hujan tidak hanya membasahi kedua tangannya. Hujan juga membasahi pakaiannya, mendinginkan tubuhnya, dan menembus hingga ke dalam hatinya.
Tiba-tiba Muyou teringat sesuatu. Ia berlari dengan cemas, terus berlari hingga kembali ke sebuah gubuk terpencil di belakang panti asuhan.
“Ayah! Ibu!”
Muyou berteriak dengan panik, tetapi di dalam gubuk itu sama sekali tidak ada siapa pun.
Meski demikian, ia tetap berlutut di tanah dengan gelisah. Ia meraih segenggam jerami dan menggunakannya untuk mengusap genangan air di lantai.
“Ibu, Ayah, jangan menghilang! Jangan!”
Sambil berkata demikian, Muyou mulai menangis.
Di lantai tergambar dua sosok manusia yang bentuknya miring dan tidak beraturan, seorang laki-laki dan seorang perempuan. Air hujan telah memudarkan gambar itu, dan setelah diusap oleh Muyou, bentuknya menjadi semakin kabur.
“Jangan pergi! Jangan pergi! Kalau kalian pergi, nanti tidak ada yang menemaniku tidur! Aku takut… Muyou sangat takut!”
Hujan turun semakin deras, perlahan menenggelamkan tangis Muyou. Atap gubuk itu memang sudah bocor sejak awal, sehingga kini seluruh tempat tersebut tampak semakin rapuh dan menyedihkan.
“Jangan… jangan…”
Pada akhirnya, Muyou terduduk lemas di lantai. Ia menatap sosok “Ayah” dan “Ibu” yang sudah hampir tak dapat dikenali, membiarkan air mata mengalir tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Apakah bahkan langit dan bumi tidak mengizinkannya memiliki ayah dan ibu? Bahkan jika mereka hanya palsu, hanya gambar, apakah itu pun tidak diperbolehkan?!
Kalau begitu, apa arti hidupnya? Tidak ada seorang pun yang menemaninya, menjaganya, ataupun menyayanginya.
Sejak awal hingga akhir, ia selalu sendirian, berjuang dalam diam, bertahan hidup dengan hina, dan mati rasa menyaksikan perubahan dunia.
Namun, jika dirinya sendirian dan tak ada yang melindunginya, mungkin ada banyak anak yatim piatu lain di dunia ini yang sama sepertinya.
Kalau begitu… lindungilah orang lain.
Dengan begitu, mereka mungkin tidak perlu sendirian lagi.
Dan dirinya, mungkin sembari melindungi orang lain, perlahan akan diterima oleh mereka. Mungkin mereka bisa saling bersandar.
Bisa, bukan? Benar-benar bisa, bukan?!
Muyou mengeringkan air mata di wajahnya. Secercah harapan muncul dalam sorot matanya. Sebenarnya, ia sangat ingin memiliki seorang adik perempuan—seorang adik yang dapat ia lindungi, seorang adik yang tidak perlu mengalami semua hal yang pernah ia alami.
Dengan penuh harap, Muyou mengambil kapur yang masih setengah basah. Ia hendak menggambar sosok kecil di lantai, tetapi tiba-tiba menghentikan tangannya.
Ia tidak ingin hanya memiliki gambar seorang adik perempuan. Ia menginginkan sesuatu yang lebih nyata. Tentu saja, akan lebih baik jika adik itu benar-benar manusia.
Muyou meringkuk di antara dua gambar yang telah kabur. Melalui lubang di atap, ia menatap langit tinggi yang dipenuhi awan hitam. Kepahitan bercampur dengan sedikit harapan di dalam hatinya.
Besok… ia akan mulai berusaha mencari seseorang untuk menjadi keluarganya. Sekalipun hanya orang palsu, asalkan ada yang dapat menemaninya berbicara.
Sendirian itu terlalu menyakitkan. Rasa sakit yang tak dapat dibandingkan dengan apa pun.
Pada saat itu, pemandangan mulai pecah. Satu demi satu gambaran melintas cepat di hadapan Muyou seperti bayangan cahaya. Pecahan-pecahan ingatan itu bahkan tidak diingat oleh Muyou sendiri. Ingatan masa kecilnya terputus selama bertahun-tahun. Sekuat apa pun ia berusaha mengingatnya, ia hampir tidak mampu mengingat apa pun.
Di dunia luar, di dalam boneka gurita.
Pemuda telanjang itu tiba-tiba memuntahkan darah. Ia menatap Muyou dengan tak percaya.
Siapa yang menyegel ingatan ini?
Ini… ingatan terlarang!