Bab Dua Puluh Tiga: Menyukai Bunga
Ada yang naik ke lantai dua dengan hati berdebar untuk bertamu, ada pula yang sedang bercanda dan berguling-guling di antara tumpukan pakaian di ruang cuci.
"Tang-tang, hahaha, jangan digelitik lagi! Beri aku waktu untuk bernapas!"
Wen Chuan jatuh terduduk di tengah tumpukan pakaian dengan air mata yang menggantung di sudut matanya. Wajahnya yang tipis merona merah, ia menjulurkan leher sambil tertawa lepas.
"Siapa suruh kau membongkar rahasiaku tadi? Bilang aku mengigau saat tidur lalu memotretku!"
Ji Tang mengerutkan keningnya yang cantik, lalu dengan nada manja memukul dada Wen Chuan.
Wen Chuan mengangkat tubuhnya, berniat memeluk si betina kecil untuk membujuknya, namun baru saja bergerak, ia langsung mematung. Ia menunduk menatap kaki jenjang sang betina yang melingkar di kedua sisinya, pandangannya perlahan meredup.
Ji Tang pun baru menyadari betapa intim posisi mereka saat ini. Serigala perak kecil yang terhimpit di bawahnya itu tampak bergetar, dadanya naik turun dengan napas yang tak teratur. Sambil menunduk, ia menatap Ji Tang dengan tatapan yang malu sekaligus menahan hasrat.
"A-Chuan..."
Ji Tang membungkuk, mengecup pelipis Wen Chuan lalu menggigit cuping telinganya, membuat seluruh tubuh Wen Chuan menegang seketika. Dari tenggorokannya keluar desahan halus yang tertahan.
"Coba lihat, bunga ini cantik tidak?"
"Hm, hm, cantik."
Wen Chuan memetik kelopak bunga itu dan meremasnya di telapak tangan. Aroma bunga yang menyengat membuatnya mabuk hingga tatapannya mengabur.
"Kelopaknya juga sangat lembut, terasa hangat. Tang-tang, kenapa tanganmu begitu dingin, padahal bunga yang kau petik justru terasa hangat begini..."
Ji Tang membekap mulut Wen Chuan dan memelototinya. "Diam, nikmati saja bungamu."
"Hm, baiklah."
Wen Chuan mengecup telapak tangan sang betina, matanya menatap tajam bunga yang baru dipetik itu. Sungguh bunga yang sangat lembut dan indah. Ia ingin mendekat untuk mengaguminya, namun takut kelopak yang rapuh itu hancur oleh sentuhannya. Namun, ia juga enggan menjauh dari keharumannya, sehingga ia hanya berani menyentuhnya dengan sangat hati-hati, merasa perasaannya campur aduk antara manis dan pedih.
Sayangnya, di saat ia tersiksa seperti itu, Ji Tang justru asyik menertawakannya. Gadis itu berkali-kali menjauhkan bunga itu lalu tiba-tiba mendekatkannya kembali, seolah mempermainkannya.
"Kau jahat sekali."
Wen Chuan menangkap tangan Ji Tang dan menggigitnya. Dari sudut pandang Ji Tang, poni yang menutupi alis Wen Chuan membuatnya tampak garang, namun saat ia mengangkat dagu pria itu, wajahnya justru terlihat sangat menyedihkan.
"Memangnya kenapa kalau aku jahat?"
Wen Chuan menyunggingkan bibir, kepolosan di matanya memudar, berganti dengan kilatan tidak terima. Ia mendekap punggung Ji Tang, melemparnya ke atas tumpukan pakaian, lalu membungkus tangan dan kaki gadis itu dengan seprai. Dengan begitu, Ji Tang tidak akan bisa lagi merebut bunganya, dan ia bisa memonopoli kesempatan itu untuk dirinya sendiri.
"Wen Chuan!"
Kini giliran Wen Chuan yang membekap mulut Ji Tang agar tidak bicara. "Sst, tidak akan terjadi apa-apa. Bunga yang kau berikan ini akan kujaga dengan baik. Tidak akan kubuat terluka atau hancur, aku akan sering menyiram dan memberinya pupuk agar tidak layu."
Rasa hangat yang mendesak merambat dari telapak tangan. Wen Chuan memeluk betina kecilnya dengan penuh kasih sayang, menepuk punggungnya untuk menenangkan napasnya. "Pakaian-pakaian ini berserakan di lantai dan jadi kotor, sepertinya harus segera dicuci."
Si betina kecil mencengkeram kerah bajunya, matanya menyipit seperti kucing, bersandar dengan lembut di bahu Wen Chuan sambil mengangguk. "Hm, aku akan mencuci baju bersamamu."
Leng Qiqing telah berkeliling mencari, namun tidak menemukan bayangan si betina kecil. Ia pun memutuskan naik ke lantai tiga untuk menaruh barang bawaan dan merapikan kamar sebelum turun kembali.
BRAK!
Pintu kamar di sudut tangga lantai dua mengeluarkan suara dentuman tumpul, seolah ada seseorang yang menabrak pintu lalu jatuh ke lantai.
Leng Qiqing merasa heran. Di rumah ini hanya ia yang sedang