Bab 46 Peternakan Ayam Milik Negara
Setelah keluar dari halaman kantor komite kabupaten, Jiang Li melihat Su Wenchen sedang asyik mengobrol dengan kakek penjaga pintu. Ia pun segera berlari menghampiri.
Melihat Jiang Li keluar, Su Wenchen berkata kepada kakek di sampingnya, "Kakek, teman saya sudah keluar. Lain kali kalau ada waktu kita ngobrol lagi ya!"
Kakek itu melambaikan tangannya.
Setelah meninggalkan pos penjagaan, Jiang Li dengan penasaran melirik ke arah kedua tangan Su Wenchen yang kosong. "Eh, Su Wenchen, kamu sudah kembali secepat ini? Ayam yang dibeli mana? Apa tidak dapat?"
Su Wenchen mengangguk. "Hmm, keluarga itu kurang memperhatikan ayam-ayamnya, dan aku melihat hal itu sudah memengaruhi produksi telur mereka, jadi aku tidak jadi membelinya. Apakah kamu masih ada urusan sekarang?"
"Tidak ada. Kali ini aku datang terutama karena Paman He menanyakanku apakah masalah yang dibicarakan oleh Sekretaris He itu benar atau tidak."
"Sekretaris He? Maksudnya masalah kamu yang berinisiatif meminta turun untuk bekerja di bawah! Apakah dia mengadukanmu?"
Jiang Li menggelengkan kepalanya. "Bukan masalah pekerjaan. Paman He sangat mendukungku bekerja di brigade bawah. Kali ini utamanya adalah masalah pribadi!"
Setelah berkata demikian, ia melirik Su Wenchen sekilas. "Sudahlah, yang penting sudah dijelaskan dengan jelas!"
Su Wenchen mengangguk. "Baguslah kalau begitu. Masih ada urusan lain di kabupaten? Kalau tidak ada, aku akan mengantarmu pulang. Sebentar lagi aku harus pergi ke Kabupaten Shiquan sebelah!"
"Kamu pergi ke sana buat apa?" tanya Jiang Li penuh keheranan.
"Tadi ngobrol dengan kakek penjaga, kudengar peternakan ayam milik negara di sebelah baru saja berganti pimpinan. Dengan adanya pimpinan baru ini, barang-barang lama sangat mudah dibersihkan dan diobral. Aku mau pergi melihat-lihat siapa tahu bisa mendapat barang bagus dengan harga murah!"
Mata Jiang Li berbinar. "Kalau begitu aku ikut denganmu! Pas sekali hari ini aku sedang tidak ada urusan."
"Oh ya, Paman He tadi juga memuji kalian saat tahu brigade kalian ingin mengembangkan usaha sampingan secara besar-besaran dan bahkan membangun dua peternakan ayam!"
"Katanya, cara seperti itu tidak hanya bisa memberikan penghasilan bagi para anggota, tetapi juga bisa mencukupi kondisi kekurangan pasokan daging dan telur di perkotaan!"
"Dia juga berpesan agar aku membantumu semampu yang kubisa, dan jika menemui kesulitan selama prosesnya, aku boleh mencarinya."
Mendengar kata-kata itu, mata Su Wenchen berbinar terang. Janji seorang kepala kabupaten, di tempat kecil seperti ini, tentu saja sangat bertuah dan berguna.
Namun, urusan membeli ayam tentu saja tidak boleh meminta bantuan kepala kabupaten, sebab jika untuk urusan lima puluh ekor ayam saja tidak beres, para pemimpin tentu akan sulit percaya bahwa kamu benar-benar bisa memajukan peternakan ayam itu.
Maka, Su Wenchen langsung berkata, "Kalau kamu tidak takut capek, aku sih tidak masalah!"
Jiang Li berkata dengan acuh tak acuh, "Mana mungkin capek!"
Kabupaten Shiquan.
Sebuah bus penumpang baru saja berhenti, dan sesosok tubuh ramping langsung turun berlari dari dalam bus.
"Hah——! Huah——!"
"Wah, setelah turun dari bus dan menghirup udara segar, rasanya langsung jauh lebih nyaman!"
Su Wenchen berjalan turun dari bus dengan santai. "Tuh kan, aku sudah bilang pasti capek, tapi kamu tadi bilang tidak capek. Memangnya kamu belum pernah naik bus penumpang sebelumnya?"
Jiang Li melambaikan tangannya dengan lemas. "Belum, Paman He yang menjemputku sebelumnya. Aku pikir bus di sini sama seperti bus kota di Beijing! Siapa sangka banyak sekali orang yang membawa barang naik ke bus, terutama bibi di sebelah tadi, tidak tahu apa yang dibawanya di dalam karung, baunya aneh sekali."
Su Wenchen tersenyum, ia tahu situasi seperti itu tidak dapat dihindari. Di era ini, selain untuk menengok kerabat atau ada keperluan mendesak, siapa juga orang biasa yang bepergian naik bus penumpang?
Namun, mau untuk keperluan apa pun, mustahil orang naik bus dengan tangan kosong.
Situasi di era ini sebenarnya masih lumayan, orang-orang belum memiliki banyak uang, dan yang bepergian pun sedikit. Nanti setelah menginjak era delapan puluhan, ketika orang-orang sudah mulai memiliki uang, bus penumpang pada masa itu barulah bisa disebut sangat berdesakan, bahkan sampai membuat kaki orang yang naik menggantung di udara karena terhimpit.
"Sudah pulih belum? Kalau sudah tidak apa-apa, mari kita pergi mencari informasi tentang peternakan ayam itu terlebih dahulu!"
"Sudah, sudah lebih baik. Bagaimana cara mencari informasinya?" tanya Jiang Li penasaran.
Ia benar-benar belum pernah mencoba hal seperti mencari informasi intelijen. Mendengar metodenya saja sudah terdengar sangat mendebarkan dan bernuansa seperti para pendahulu yang melakukan kegiatan bawah tanah zaman dulu.
"Ikuti saja aku, nanti juga tahu."
Su Wenchen langsung pergi ke toko koperasi pemasokan dan pemasaran untuk membeli sekantong kecil permen. Setelah itu, ia berjalan mencari seorang wanita yang tampak ramah dan pandai mengobrol.
"Bibi, saya ingin bertanya sesuatu," ucapnya sambil menyerahkan dua buah permen dari tangannya.
Wanita itu tidak langsung menerimanya, ia justru menatap Su Wenchen dengan penuh kewaspadaan. "Kamu mau menanyakan apa?"
Su Wenchen berkata sambil tersenyum, "Kami dari Komite Distrik Wanbei, Kabupaten Lanshui sebelah. Di tempat kami sekarang telur sangat sulit dibeli. Kami dengar di Shiquan ada peternakan ayam milik negara, jadi Sekretaris komite kami mengutus kami datang untuk melihat apakah kami bisa membeli telur dengan harga murah."
Mendengar ucapan Su Wenchen, wanita itu seketika melunturkan kewaspadaannya. Ia segera mengambil permen dari tangan Su Wenchen lalu berkata, "Halah, kukira urusan apa. Kalau mau beli telur, kalian datang di waktu yang salah, sekarang harga telur di sini justru melonjak semakin tinggi!"
Su Wenchen bertanya dengan rasa penasaran, "Bukankah di tempat kalian ada peternakan ayam milik negara? Kenapa harganya malah semakin melonjak?"
Dengan nada geram wanita itu berkata, "Semua itu gara-gara si Botak Liu keparat itu. Gara-gara wabah penyakit ayam, sebagian besar ayamnya mati semua."
"Setelah si Botak Liu disingkirkan, datanglah Kepala Bagian Zhang. Kepala Bagian Zhang ini bahkan lebih tidak becus daripada si Botak Liu. Sudah setahun lebih memimpin tapi ayamnya tidak kunjung pulih, justru semakin banyak yang mati."
"Tapi kudengar beberapa hari yang lalu pihak atasan kembali mengirim seorang kepala bagian baru, dan sekarang di peternakan ayam sana mereka sedang sibuk membongkar kandang-kandang ayam!"
Su Wenchen merasa agak bingung. "Membongkar kandang ayam? Pengembangan kembali peternakan ayam bukankah seharusnya memperbanyak pembelian bibit ayam? Kenapa malah membongkar kandang?"
"Katanya, kepala bagian yang baru ini bilang bahwa wabah penyakit ayam terjadi karena ayam-ayam dikurung di dalam ruangan. Makanya ayam-ayam itu harus dilepaskan ke luar seperti cara zaman dulu, dengan begitu kesehatan ayam baru bisa terjamin."
Setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkannya, Jiang Li berkata dengan nada agak kecewa. "Ternyata begini caramu mencari informasi intelijen!"
"Lalu mau bagaimana lagi? Memangnya harus dibuat seperti agen rahasia yang bertemu secara sembunyi-sembunyi begitu?"
Membawa Jiang Li mengikuti petunjuk arah yang diberikan oleh wanita tadi, keduanya langsung mendatangi lokasi peternakan ayam milik negara tersebut.
Pemandangan pertama yang menyambut pandangan Su Wenchen adalah tembok merah yang panjangnya membentang seolah tanpa ujung. Tembok itu seluruhnya terbuat dari bata merah, dan di bagian atas tembok dipasangi banyak pecahan kaca.
Su Wenchen bahkan belum masuk ke dalam. Hanya dengan melihat dari tembok luar saja sudah bisa merasakan betapa kayanya peternakan ayam milik pihak lain tersebut.
Seluas itu, semuanya dikelilingi dengan tembok bata merah, berapa banyak bata merah yang harus dihabiskan untuk itu!
Begitu teringat pada peternakan ayam miliknya sendiri yang bahkan tidak memiliki tembok pembatas, dan hanya memiliki satu bangunan kandang serta satu ruang penetasan.
Sudahlah. Sama sekali tidak bisa dibandingkan.
Namun, jika dilihat beberapa tahun ke depan nanti, peternakan ayam miliknya sendiri belum tentu akan kalah bagus dibandingkan dengan mereka.
Keduanya menyusuri tembok pembatas hingga menemukan lokasi gerbang utamanya.
Namun pada saat itu, sudah banyak orang berkumpul di depan gerbang besi besar peternakan ayam tersebut.
Su Wenchen merasa agak heran. Melihat dari pakaian mereka, sepertinya mereka adalah penduduk desa sekitar, untuk apa mereka berkumpul di sini?
"Eh, Kak, sedang apa berkumpul di sini? Kenapa tidak masuk saja?"
Orang itu melirik Su Wenchen sekilas. "Kamu juga mendapat kabar untuk datang bekerja? Tunggu saja, sebentar lagi gerbangnya dibuka."
Su Wenchen mengulurkan sebatang rokok. "Kak, saya bukan datang untuk bekerja. Kami dari peternakan ayam komite distrik sebelah. Kami dengar peternakan ayam milik negara di sini memiliki bibit ayam yang diimpor menggunakan devisa asing, jadi kami datang untuk mempelajari pengalaman tingkat lanjut mereka."
Orang itu pertama-tama mengamati Su Wenchen, lalu melirik Jiang Li yang berdiri di belakang Su Wenchen dengan balutan pakaian khas kader.
"Kalau begitu kalian datang terlambat. Kalau datangnya zaman dulu sih masih bisa."
"Dulu ya, aku beri tahu kamu, seluruh peternakan ayam ini memiliki satu atau dua puluh ribu ekor ayam, belasan kandang ayam yang berjajar sampai tidak terlihat ujungnya. Kalau kamu berjalan masuk ke dalam, kamu bahkan tidak akan bisa mendengar suara lain, yang terdengar hanya suara kokokan ayam semuanya!"
"Pada masa itu, setiap hari selalu ada orang dari pabrik lain yang mengantre untuk mengangkut telur, ramai sekali. Waktu itu harga telur di tempat kami baru 4 posen per kati!"
Setelah berkata demikian, orang itu menghela napas. "Siapa sangka indahnya tidak berlangsung lama, tidak sampai dua tahun kemudian masalah pun terjadi. Jadi kurnasehatkan kalian agar tidak usah datang mempelajari pengalaman tingkat lanjut apa pun. Jikalau nanti kalian malah membawa pulang wabah penyakit ayam ke tempat kalian, siap-siap saja kalian akan menanggung akibatnya!"
"Kak, mendengar perkataanmu itu saya merasa sangat masuk akal. Tapi, apakah bibit ayam impor dari peternakan ayam milik negara di sini masih ada? Komite distrik kami juga ingin mendatangkan sebagian dari sini."
"Kalau itu aku kurang tahu. Tapi beberapa hari lalu saat aku bekerja, aku sempat mendengar para pegawai tetap mengobrol. Sepertinya masih tersisa sekitar seratusan ekor. Katanya bagian logistik ingin memproses dan mengurus kelompok ayam itu, tapi bagian produksi melarangnya dan tidak membiarkannya."
"Pada akhirnya sepertinya kepala bagian yang baru turun tangan, barulah disetujui agar bagian logistik mencari cara untuk menyingkirkan kelompok ayam tersebut. Kudengar awalnya mereka ingin menjualnya ke koperasi pemasokan dan pemasaran, tapi koperasi menawarnya dengan harga murah, jadi pihak peternakan tidak jadi menjualnya ke sana."
Kilatan kegembiraan melintas di mata Su Wenchen. Sepertinya urusan ini benar-benar membuahkan hasil.