Bab 28: Memukulnya untuk Kedua Kalinya
Zhou Jingan bahkan tidak menoleh sedikit pun. Pupil matanya yang gelap menyusut tajam. Ia menghempaskan Lu Ran ke atas tempat tidur, lalu menindihnya dengan dada yang keras bagaikan besi. "Pergi mandi! Atau kau mau kita melakukannya sekali lagi?"
Lu Ran tahu pria itu hanya mengancamnya. Ia tidak memedulikan gertakan tersebut dan menatapnya tajam dengan mata yang berkaca-kaca.
Sesaat kemudian, pria itu menyingkir.
Lu Ran dengan gesit turun dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi. Selain dada yang dipenuhi bekas kemerahan, paha-pahanya pun tampak sangat mengenaskan.
Sambil membersihkan diri, ia mengumpat pelan, "Tua bangka tak tahu malu! Tidak punya harga diri! Mesum!"
Zhou Jingan menatap punggung Lu Ran yang menghilang di balik pintu. Cukup lama ia terdiam sebelum akhirnya menarik kembali tatapan tajamnya. Ia tidak segera bangkit, melainkan bersandar di kepala ranjang, lalu tangannya yang panjang mengambil sebungkus rokok yang belum dibuka dari laci dan menyalakannya dengan santai.
Di balik kepulan asap, mata hitamnya yang sayu menatap hamparan tempat tidur yang berantakan—kacau balau!
Kondisi itu sedikit mencerminkan suasana hatinya saat ini.
Tiga tahun lalu, ia sengaja tidak mengizinkan Lu Ran masuk ke keluarga Zhou dan tidak membiarkannya menjadi adiknya karena ia memiliki niat tersembunyi. Sebab, pada pandangan pertama, gadis itu memang menarik perhatiannya.
Merencanakan masa depan pernikahan adalah gaya yang selalu ia pegang teguh.
Namun, tiga tahun kemudian, ia tidak menyangka gadis kecil itu sudah memiliki pria lain di hatinya. Ibarat sayuran yang ia tanam sendiri, kini justru dimakan oleh babi.
Membuangnya? Ia merasa sayang.
Memilikinya sendiri? Bagi seseorang yang perfeksionis dalam hal perasaan, hal itu terasa sulit untuk diterima.
Namun, semalam, ia justru...
Tak disangka, rasanya ternyata tidak buruk. Selain itu, gadis itu ternyata juga memiliki kemampuan untuk meredakan insomnia yang dideritanya.
Di kamar mandi, Lu Ran sudah selesai membersihkan diri, tetapi ia tidak bisa keluar. Ia membalut tubuhnya dengan handuk, membuka sedikit celah pintu, dan mengintip ke luar.
Zhou Jingan sedang mengisap rokoknya. Wajahnya yang dingin dan terpahat sempurna tampak samar-samar di balik kabut asap.
Ia menutupi tubuh bagian bawahnya dengan selimut, sementara bagian atasnya dibiarkan terbuka. Otot dada yang bidang dan otot perut yang rata terlihat jelas. Warna kulitnya tampak begitu seksi dan memikat.
"Itu..." ucap