Bab 34 Raut Wajah Mengerikan
Halaman 1 dari 3
Zhuang Hao mengangkat tangan dan mencengkeram dagu Lu Ran. Telapak tangannya mendadak mengerat. Dengan gigi terkatup, ia berkata kata demi kata, “Ranran, kau berani menikah dengan orang lain? Ternyata kau benar-benar sanggup melakukannya!”
Bibir tipisnya terkatup rapat, sementara wajahnya yang beringas tampak cukup menakutkan.
“Ah, Zhuang Hao, kau... lepaskan aku! Bibi...” Lu Ran mengembuskan napas pendek karena kesakitan. Matanya seketika memerah, lalu ia menoleh meminta pertolongan kepada Lu Meizi. Namun, Lu Meizi hanya tersenyum dan melambaikan tangan.
“Tuan Muda Zhuang, silakan saja, silakan. Aku naik dulu.”
Hati Lu Ran seketika jatuh ke dasar jurang. Ia yakin, bahkan jika dirinya dibunuh, Lu Meizi pun akan tetap berpangku tangan.
Zhuang Hao mendorong Lu Ran masuk ke kursi belakang, lalu menyusul masuk.
Di ruang sempit itu, Lu Ran tak punya tempat untuk menghindar. Sambil menggigit bibir, ia mencengkeram pakaiannya.
“Zhuang Hao, apa yang ingin kau lakukan!”
Ia mencibir tanpa sedikit pun kesabaran, lalu merobek kerah bajunya.
Tenaganya besar, dan karena dikuasai amarah, gerakannya menjadi sangat kasar.
Lu Ran berusaha sekuat tenaga menutupi dadanya dengan tangan. Namun, bekas ciuman Zhou Jing’an di lehernya tetap tertangkap oleh mata Zhuang Hao. Tatapannya seketika dipenuhi rasa sakit yang menusuk.
“Ranran, hubungan kita kau putuskan begitu saja. Sungguh, kau sangat kejam!”
Tatapan hitam pekatnya beralih ke wajah Lu Ran, tajam dan dingin.
Hati Lu Ran bergetar. Bulu matanya tak kuasa menahan getaran, lalu segera basah oleh kabut air mata.
Halaman 2 dari 3
Ia menoleh kepadanya.
“Zhuang Hao, kau dan Zhou Yue bahkan sudah memiliki anak. Apa lagi yang kau inginkan dariku? Terus terlibat dalam hubungan yang tak jelas denganmu? Maaf, aku tidak serendah itu!”
Zhuang Hao tertegun. Ia menundukkan kepala dengan penuh penyesalan.
“Ranran, maafkan aku. Saat itu, aku mengira dia adalah dirimu. Aku tidak sengaja mengkhianatimu.”
Lu Ran menatap ke luar jendela.
“Pengkhianatan tetaplah pengkhianatan. Selain meninggalkanmu, aku tidak punya pilihan lain.”
Setelah mengucapkan kata-kata itu, dadanya dan tenggorokannya terasa seperti disumbat kapas—sesak dan padat, hingga ia tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.
Zhuang Hao bersandar di kursi. Matanya terpejam, tetapi kelopak matanya juga memerah.
Beberapa saat kemudian, Zhuang Hao turun dari mobil dan memindahkan satu per satu barang di dalamnya ke mobil Lu Ran.
Ketika Lu Ran turun, ia telah selesai memindahkan semuanya. Ia berjalan menghampiri Lu Ran dan mengulurkan tangan untuk merapikan kerah bajunya. Lu Ran menghindar sedikit. Wajah Zhuang Hao seketika berubah dingin. Ia memegang wajah Lu Ran, lalu menciumnya dengan kasar. Setelah melumat bibirnya dengan ganas, barulah ia melepaskannya.
“Coba menghindar lagi!”
Ia bagaikan seekor binatang buas yang sedang mengamuk.
Lu Ran tersentak ketakutan. Ibu jari kasar Zhuang Hao mengusap perlahan bibirnya yang merah, bengkak, dan basah. Tatapannya mengeras saat ia berkata dengan penuh tekanan, “Ranran, aku telah melakukan kesalahan, jadi aku mengizinkanmu melakukan kesalahan sekali juga. Tetapi ingat, Zhou Jing’an bukan orang baik. Niatnya menikahimu tidaklah sederhana. Cepat atau lambat, aku dan Zhou Yue akan berpisah. Hari ketika aku berpisah dengannya adalah hari ketika kau bercerai dari Zhou Jing’an. Aku berharap, pada saat itu, kau masih bisa memberikan dirimu yang utuh kepadaku!”
Setelah mengatakannya, ia kembali mengisap bibir Lu Ran dengan kuat, lalu berbalik masuk ke mobil. Ia membanting pintu dan pergi.
Lu Ran berjongkok lemas di tanah. Kalimat Zhuang Hao terus bergema di benaknya—hari ketika aku berpisah dengannya adalah hari ketika kau bercerai dari Zhou Jing’an. Hatinya bergetar samar...
Halaman 3 dari 3
Pada saat itu, ia sempat goyah.
Namun, begitu teringat akan anak dalam kandungan Zhou Yue, Lu Ran buru-buru menyingkirkan pikiran tersebut. Atas dasar apa Zhuang Hao menuntutnya tetap menjaga kesetiaan? Atas dasar apa!
Lu Ran menyeka bibirnya, lalu bangkit dan berjalan menuju mobilnya di tepi jalan.
Dari kejauhan, seorang perempuan yang bersembunyi di tempat gelap merekam seluruh kejadian itu dengan telepon genggamnya.
Di belakangnya, seorang perempuan cantik paruh baya yang mengenakan piyama sambil menuntun anjing pudel memanggilnya, “Qianqian, apa yang kaulakukan di sana?”
Tang Qianqian menyimpan video itu dengan baik, lalu berbalik dan tersenyum kepadanya.
“Tidak apa-apa, Ibu. Mari kita pulang.”
Wajahnya dihiasi senyum, tetapi hati Tang Qianqian bergolak seperti gelombang pasang. Lu Ran ternyata telah menikah dengan Zhou Jing’an!
Lu Ran mengemudikan mobil pulang dan menata barang-barangnya di kamar tamu. Karena tubuhnya terasa lengket dan gerah, ia ingin mandi. Baru saja ia menanggalkan pakaian, seseorang menekan bel dari luar.
Secara naluriah, Lu Ran mengira Zhou Jing’an yang datang. Ia pun kembali mengenakan pakaiannya, lalu membuka pintu.
Ternyata yang berdiri di luar adalah pengantar bunga.
“Nona Lu, mohon tanda tangani penerimaan bunga Anda.”