Bab 44 Ancaman
Pelayan memandu Lu Huizi dan putrinya menuju kamar pribadi di Pondok Gerimis dan Hujan.
Di depan pintu, Lu Huizi menarik lengan Lu Ran, "Ranran, Zhuang Hao ingin membicarakan sesuatu denganmu, takut kalau kamu tidak mau menemuinya, makanya dia meminta tolong pada Ibu..."
Lu Ran tertegun, "Ibu, bagaimana bisa Ibu melakukan ini? Aku sudah menikah!"
Tiba-tiba ia merasa gelisah, matanya dengan cepat melirik ke arah ujung tangga. Jika Zhou Jingan tahu bahwa ia menolak ajakannya demi datang ke sini untuk menemui mantan kekasihnya secara diam-diam, apa kira-kira pendapat pria itu tentang dirinya?
Namun, sesaat kemudian ia berpikir, ia tidak merasa bersalah, untuk apa ia harus merasa takut?
Lagipula, bukankah pria itu juga menemui Tang Yixin sekali dua kali? Padahal jelas-jelas wanita itu berniat buruk padanya...
Lu Huizi dengan sengaja menghalangi pandangannya dan berkata tanpa merasa bersalah, "Sudah menikah pun tetap bisa berteman. Hubungan kalian dulu begitu baik, apakah kalian tidak akan pernah bertemu lagi seumur hidup?"
"Ibu tidak tahu, aku tidak bisa berteman dengannya!" Kata-kata yang diucapkan Zhuang Hao hari itu telah menunjukkan sikapnya, ia tidak akan menyerah, jadi wajar saja jika Lu Ran berusaha menghindarinya sebentar saja!
Sedetik kemudian, pintu ditarik dari dalam. Wajah tampan Zhuang Hao muncul di hadapannya. Dengan senyum penuh arti ia berkata, "Ranran, aku ingin mengobrol denganmu tentang seri 'Kepompong'..."
Sebelum ia sempat menyelesaikannya, Lu Ran menggertakkan gigi dan buru-buru memotongnya, "Baik! Kita masuk ke dalam dan mengobrol!"
Lu Huizi bertanya dengan heran, "Seri 'Kepompong' apa itu?"
Lu Ran mencari akal secara mendadak dan menjawab, "Itu adalah sejenis spons rias wajah yang baru saja diluncurkan oleh perusahaannya, bentuknya sedikit menyerupai kepompong ulat sutra."
Lu Huizi tidak curiga sedikit pun. Sambil tersenyum, ia mendorong putrinya dengan lembut ke sisi Zhuang Hao, lalu melirik ke arah pemuda itu dan berkata, "Kalian mengobrolah dengan baik, ya."
Zhuang Hao mengangguk kecil padanya, lembut dan sopan. Sejak pertama kali melihatnya, Lu Huizi langsung menyukai pemuda itu dari lubuk hatinya. Pemuda itu selalu membuatnya teringat pada seseorang di masa mudanya.
Ketika Zhou Jingan naik ke lantai atas