Bab Lima Puluh Tujuh: Tes DNA Orang Tua dan Anak

Asisten Kecil Sang Bintang Besar Gadis kecil, la la la la 3412kata 2026-03-04 14:04:13

Bab 57: Tes Hubungan Ayah dan Anak

Lin Yuan mendengar ucapan Tongtong, namun ia tidak terlalu memikirkannya. Ia hanya tersenyum tipis dan melajukan mobilnya ke depan.

Mobil itu perlahan berhenti di depan gedung kantor milik Grup R. Lin Yuan turun dari mobil, membuka pintu kursi penumpang di samping, membantu Tongtong melepas sabuk pengamannya, lalu menggendongnya keluar. Tongtong dengan patuh melingkarkan tangannya di lehernya, matanya yang besar dan bening menatap penuh rasa ingin tahu pada bangunan megah di hadapannya.

"Ini tempat Papa bekerja ya?" tanya Tongtong sambil menunjuk gedung di depannya.

Lin Yuan berjalan sembari menjawab, "Benar, inilah tempat Papa bekerja. Tongtong benar-benar ingin melihat-lihat?"

Wajah Tongtong berseri-seri penuh semangat.

"Baiklah, ayo Papa ajak naik ke atas." Lin Yuan mempercepat langkahnya menuju lobi utama.

"Tuan Direkur, selamat pagi," sapa tiga resepsionis cantik yang berpapasan. Mereka menatap Lin Yuan dengan pandangan terkejut—bos besar yang selalu dikenal dingin itu kini tersenyum ramah sambil menggendong seorang gadis kecil yang sangat imut. Pipi bulatnya sungguh membuat siapa saja ingin mencubitnya, kulitnya halus seperti bayi, sesuatu yang mereka idam-idamkan dari produk kecantikan. Namun bukan itu yang paling mengejutkan; pertanyaannya, sejak kapan direktur yang selalu lajang itu punya anak perempuan sebesar ini? Mereka biasanya selalu update soal gosip kantor, tapi untuk yang satu ini benar-benar tidak ada bocoran sama sekali. Rupanya, Lin Yuan memang sangat pandai merahasiakan urusan pribadinya.

"Kakak-kakak cantik, halo!" Tongtong melancarkan jurus senyum manisnya, membuat para resepsionis itu semakin tak berdaya.

"Eh... halo," jawab salah satu dari mereka yang paling sigap.

Lin Yuan tidak berkata apa-apa, hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu berjalan menuju lift pribadi.

Di dalam lift.

"Wow, jadi Papa ternyata direktur ya? Keren banget. Nanti aku mau cerita ke Shijie," gumam Tongtong pada dirinya sendiri.

Shijie, bukankah itu sama dengan nama anaknya Xue Kai? Namun, nama yang sama memang banyak di dunia ini, Lin Yuan pun tak terlalu memikirkannya.

"Tin!" pintu lift terbuka. Lin Yuan melangkah keluar menuju sebuah ruangan luas. Sekretaris yang cekatan segera berdiri menyambutnya.

"Tuan Direktur."

"Tidak apa-apa. Tolong ambilkan jus untuk putri kecil ini," ujar Lin Yuan dengan senyum, lalu menaruh Tongtong di atas sofa kulit hitam pekat dan duduk di sampingnya.

"Tuan Direktur, Anda mau minum apa?" tanya sang sekretaris.

"Aku... aku agak haus, jadi ambilkan air es saja," jawabnya.

Sang sekretaris pun berlalu.

"Wah, Papa, ternyata tempat kerjamu besar dan keren banget," seru Tongtong sambil meraba kain sofa, matanya meneliti setiap sudut ruangan Lin Yuan seperti radar.

"Ibumu juga seorang bos. Kantornya pasti juga indah, kan?" Lin Yuan melepas jas, menggantungkannya di gantungan baju, melonggarkan kancing lengan, lalu duduk di kursi kerjanya.

Tongtong bangkit, melompat turun dari sofa, berlari kecil ke meja kerja Lin Yuan. Ia menatap penuh harap pada Lin Yuan, menarik ujung bajunya, memberi isyarat ingin duduk di pangkuannya.

Lin Yuan menunduk menatap mata bening Tongtong, tersenyum, lalu mengangkatnya ke pangkuan.

Tongtong menatap penasaran pada barang-barang di atas meja—semua hanya alat tulis dan dokumen, tak ada yang menarik. Namun matanya yang jeli menangkap sebuah foto dalam bingkai kaca. Tanda tanya langsung memenuhi benaknya. Bukankah itu sama seperti sampul majalah yang Mama sembunyikan di lemari? Kenapa paman tampan ini juga punya?

Tongtong ingin mengambil bingkai itu, tapi letaknya terlalu jauh.

"Papa, aku mau lihat foto itu," pinta Tongtong sambil menunjuk bingkai tersebut.

Lin Yuan melihat arah jari Tongtong, keningnya berkerut. Dari sekian banyak barang di meja, kenapa dia hanya tertarik dengan foto itu?

"Tongtong, yang lain boleh kamu lihat, kecuali foto itu," suara Lin Yuan terdengar dingin. Ia jelas sudah mulai tidak senang.

Mana mungkin Tongtong paham isyarat seperti itu. Ia hanyalah gadis kecil berusia lima tahun, dipenuhi rasa ingin tahu terhadap dunia. Sejak kecil selalu dimanjakan keluarga, apa yang diinginkan selalu didapat.

"Tidak, aku harus lihat," ucap Tongtong keras kepala.

"Tongtong, Papa bisa marah, lho," suara Lin Yuan mulai naik.

"Papa... aku cuma ingin lihat, soalnya Mama juga punya foto seperti itu..." Tongtong mulai ketakutan, namun dengan suara gemetar ia jujur mengungkapkan alasannya.

"Mamamu? Dia juga punya foto yang sama?" Lin Yuan mengambil bingkai itu dan menunjukkan dengan jelas pada Tongtong, takut ia salah lihat.

"Iya, Mama sembunyikan majalah itu di sudut paling dalam lemari. Suatu hari aku bosan sendiri di rumah, iseng-iseng bongkar lemari dan nemu deh. Mama menjaga majalah itu baik-baik. Sampulnya... persis seperti foto ini. Tapi..." Tongtong terus bercerita, namun Lin Yuan sudah kehilangan fokus. Hatinta bergetar hebat. Ternyata ia tidak pernah dilupakan, hanya dihukum atas kesalahan masa lalu. Itu sudah cukup baginya... sudah cukup...

Tidak, jika Tongtong anaknya, dan ia pernah dengar Tongtong memanggil Liu Zichuan sebagai paman, berarti Liu Zichuan bukan ayah kandungnya. Jadi, siapa ayah kandungnya? Tongtong sekarang lima tahun, sama dengan waktu perpisahan mereka dulu. Mungkinkah...

Lin Yuan menatap Tongtong yang masih asyik bercerita dengan mulut ternganga. Pantas saja ia merasa melihat bayangan seseorang pada gadis kecil ini, orang yang sangat dikenalnya—rupanya itu dirinya sendiri.

Jika benar Tongtong adalah putrinya, Lin Yuan tak berani membayangkan apa saja yang telah dilakukan Tongtong padanya. Jika benar, berarti Yan Xiaoxiao selama ini menyembunyikan kebenaran. Ia harus segera memastikan. Cara terbaik adalah tes DNA. Tidak bisa ditunda, harus sekarang juga.

Tanpa berkata apa-apa, Lin Yuan langsung menggendong Tongtong dan bergegas ke pintu. Tepat saat itu, ia bertabrakan dengan sekretaris yang membawa nampan. Sekretaris itu hampir terjatuh, jus dan air es tumpah berserakan, sekretaris pun jatuh ke lantai. Lin Yuan tak peduli, langsung masuk lift dan turun ke bawah.

Lin Yuan keluar dari gedung dengan tergesa-gesa. Kini seluruh kantor tahu direktur membawa seorang gadis kecil yang sangat imut ke kantor. Awalnya semua ingin melihat si gadis kecil, tetapi baru sebentar ia sudah dibawa pergi oleh direktur. Wajah Lin Yuan yang tadinya penuh percaya diri kini berubah tegang. Pasti ada sesuatu yang besar sedang terjadi.

Ia meminta keamanan untuk mengeluarkan mobilnya. Setelah menerima kunci, Lin Yuan dengan cepat menaruh Tongtong di kursi penumpang depan, memasangkan sabuk pengaman, lalu duduk di kursi pengemudi. Mesin dinyalakan, mobil melaju kencang meninggalkan kantor.

"Paman tampan, kita mau ke mana?" tanya Tongtong dengan sedikit takut melihat wajah Lin Yuan yang kini sedingin es.

"Ke suatu tempat, nanti juga tahu," jawab Lin Yuan tanpa menoleh, menambah kecepatan.

Mobil melaju menembus jalanan kota hingga berhenti di depan sebuah rumah sakit. Mereka turun.

"Paman, aku nggak mau ke rumah sakit," rengek Tongtong, sebab ia paling takut suntikan dan dokter berseragam putih.

"Tenang, kita bukan mau disuntik," ujar Lin Yuan menenangkan sambil membawa Tongtong ke lift.

Lantai tiga.

"Lin Yuan, kenapa kamu ke sini?" tanya Xue Kai, sahabat Lin Yuan di ruang kerjanya, terkejut melihat Lin Yuan menggendong Tongtong.

Xue Kai menatap Lin Yuan yang serius, tidak tahu drama apa yang akan dimainkan kali ini.

"Tolong periksa, apakah aku benar ayah kandung anak ini," ujar Lin Yuan tanpa basa-basi.

"Ayah dan anak? Wah, selama ini aku kenal kamu, nggak pernah dengar kamu punya anak sebesar ini," Xue Kai menatap Tongtong, merasa gadis kecil itu mirip seseorang yang ia kenal.

"Jangan banyak bicara, cepat lakukan," suara Lin Yuan keras, tak memberi ruang untuk menolak.

"Baiklah," Xue Kai hanya bisa pasrah, lalu tersenyum pada Tongtong.

"Adik manis, ayo, abang antar kamu ke tempat yang bagus."

Namun Tongtong sama sekali tidak tertarik, malah bersembunyi di belakang Lin Yuan. Bagaimana tidak, Xue Kai memakai jas dokter putih, dan di rumah sakit dokter berjubah putih itu menakutkan, kecuali Paman Zichuan. Siapa tahu Xue Kai akan menyuntiknya. Lebih baik menjauh sejauh mungkin.

"Xue Kai, jangan bercanda, ayo urus saja," tegas Lin Yuan.

"Baik."

Lin Yuan mengikuti Xue Kai, namun merasa ada yang aneh. Saat menoleh, Tongtong sudah menghilang. Dalam benaknya terlintas dua kata, "Celaka." Ia buru-buru kembali mencari Tongtong.

Tongtong memang cerdik. Mana mungkin ia mudah ditangkap. Ia sudah hafal jalan keluar, naik lift turun ke bawah. Untung ia pernah berada di lingkungan seperti ini, tahu apa yang harus dilakukan. Kakinya yang kecil berlari secepat kelinci.

Lin Yuan mencari di ruang Xue Kai tak menemukannya, lalu turun ke lantai satu. Namun saat itu rumah sakit sedang ramai, pasien dan keluarga lalu-lalang membuat matanya berkunang-kunang. Mencari anak kecil di keramaian seperti itu bukan perkara mudah.

Lin Yuan pun menuju ruang monitor. Melalui rekaman CCTV, ia melihat Tongtong sudah keluar dari rumah sakit setengah jam lalu, sementara ia masih sibuk mencari di ruang Xue Kai.

Lin Yuan marah besar, meninju meja dengan keras. Para petugas ruang monitor pun menahan napas, takut jika salah ucap mereka akan kehilangan pekerjaan.