Bab 24: Yan Xiaoxiao Mengandung
Bab Dua Puluh Empat: Kabar Gembira dari Yan Xiaoxiao
Di luar studio rekaman.
Yan Xiaoxiao merapikan barang-barang penting milik Lin Yuan, lalu mengeluarkan buku catatannya untuk menulis dan mencoret-coret sesuatu. Hari ini ia mengenakan kemeja panjang yang sangat tertutup, kerahnya pun ditegakkan. Sungguh, semua ini gara-gara Lin Yuan. Padahal ia tahu hari ini Xiaoxiao masih harus menghadiri jadwal kerja, semalam ia justru meninggalkan “kelopak bunga” berwarna merah muda di seluruh tubuh Xiaoxiao, membuat Xiaoxiao tak berani mengenakan baju lengan pendek keluar rumah. Untung saja ia bekerja di ruang rekaman yang ber-AC, jadi tidak terlalu panas. Saat ini, Lin Yuan sedang berada di dalam studio untuk rekaman.
Dulu, Xiaoxiao sering memandang Lin Yuan dari sisi buruk, namun ternyata ia adalah pria yang sangat baik. Selain penampilannya yang menawan, ia juga memiliki hati yang lembut dan penuh kebaikan. Entah mengapa, bersama Lin Yuan, Xiaoxiao selalu merasa tenang dan terlindungi—seolah, meski dunia runtuh, Lin Yuan akan menjadi sandarannya. Status Lin Yuan membuat hubungan mereka tidak mungkin dipublikasikan, namun Xiaoxiao tidak peduli. Yang ia pedulikan hanya perasaan mereka saat bersama.
Awalnya, ia sudah membuat perjanjian dengan ayahnya bahwa ia hanya boleh merantau setahun. Ia tahu, itu batas maksimal ayahnya—ayahnya tidak bisa menerima jika ia mencari nafah dengan pekerjaan seperti ini. Ayahnya ingin menekannya, agar Xiaoxiao sadar betapa sulitnya bertahan hidup di dunia ini. Mungkin ia memang anak yang beruntung; langit memudahkannya mendapat pekerjaan dan mempertemukannya dengan Lin Yuan.
Masih teringat masa-masa kuliah, banyak gadis rela antre pagi-pagi demi membelikan sarapan untuk pacarnya. Dulu, Xiaoxiao menertawakan mereka, merasa tindakan itu konyol. Kini, ia sadar, dirinya sendirilah yang paling bodoh. Ia tidak punya mantan kekasih, tidak perlu khawatir akan masa lalu yang rumit. Namun, Lin Yuan punya. Dulu, ia pernah sangat mencintai seorang gadis selama bertahun-tahun. Meski gadis itu telah lama meninggalkannya, di buku hariannya masih terselip foto bersama mereka. Gadis itu sungguh cantik—gaun putih, rambut panjang hitam, bulu mata lentik, dan lesung pipi yang manis. Lin Yuan memeluknya dengan lembut, keduanya tersenyum cerah di depan kamera. Bahkan Xiaoxiao, sebagai orang luar, merasa iri melihat pasangan sempurna itu.
Xiaoxiao tidak pernah tahu apa isi pikiran Lin Yuan. Ia tak pernah membahas gadis itu di hadapannya. Wajar saja, mana ada lelaki yang mau membicarakan mantan kekasih di depan pacar barunya? Namun, kenapa hatinya tetap merasa tidak tenang? Walaupun setiap malam mereka tidur berpelukan, ia selalu merasa seperti terpisahkan oleh lautan luas. Lin Yuan, apa yang harus kulakukan denganmu?
Sejak mereka bersama, hampir setiap malam mereka bercinta, dan Lin Yuan tidak pernah melakukan tindakan pencegahan. Xiaoxiao tidak tahu apakah ia lupa atau memang sengaja. Dulu, Lin Yuan pernah berkata ingin menjadi ayah. Haruskah ia mempercayainya? Atau itu hanya ucapan sesaat? Namun ketika Xiaoxiao mengatakan ingin membeli pil kontrasepsi, sorot mata Lin Yuan memperlihatkan kemarahan. Apa yang harus ia lakukan? Ia benar-benar tidak pernah menghadapi masalah seperti ini.
Dulu, saat pelajaran biologi di sekolah, guru berkali-kali menasihati agar jangan sampai hamil di luar nikah. Saat itu, Xiaoxiao sangat meremehkan teman-teman yang pacaran sebelum waktunya, apalagi yang sampai hamil, ia paling mencibir mereka. Kini, ia sendiri berjalan di jalan yang dulu sangat ia pandang rendah. Sudah dua bulan menstruasinya terlambat. Xiaoxiao tidak berani membeli tes kehamilan, takut melihat garis merah itu. Ia takut anaknya lahir tanpa ayah, takut tidak mampu memberikan keluarga bahagia untuk anaknya. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan pada anaknya mengapa anak lain punya ayah, sedangkan ia tidak. Dulu, ia tak pernah berpikir akan menghadapi masalah seperti ini, tapi sekarang semuanya ada di depan mata.
Jika ayah tahu ia akan punya cucu, entah ia akan senang atau marah. Xiaoxiao tak berani membayangkan dirinya mengasuh anak sendirian di jalanan. Lin Yuan, bertemu denganmu, haruskah aku bahagia, atau justru bersedih?
Tidak, Xiaoxiao tidak boleh hanya diam dan menunggu. Ia harus menyelesaikan masalah ini sendiri. Tapi harus mulai dari mana? Benar, setelah pulang kerja, ia akan membeli tes kehamilan di apotek. Hasilnya hanya dua: hamil atau tidak. Jika hamil, apa yang harus ia lakukan? Memberitahu Lin Yuan? Atau menggugurkan kandungan? Tidak, keduanya terasa salah. Jika tidak hamil, ia harus lebih berhati-hati ke depannya. Sungguh rumit, ternyata di balik manisnya cinta, ada banyak masalah yang menanti.
Saat Xiaoxiao sedang duduk di kursi luar studio, memikirkan semua ini, Lin Yuan keluar dari ruang rekaman. Wajahnya tersenyum, entah karena rekaman berjalan lancar atau karena melihat Xiaoxiao. Ia melangkah ringan, duduk di samping Xiaoxiao, lalu mengintip apa yang sedang ia tulis di buku catatan. Rambut Lin Yuan menyentuh pipi Xiaoxiao, membuat Xiaoxiao yang sedang melamun terkejut. Secara refleks, Xiaoxiao menutup buku catatannya, lalu menoleh dengan gugup.
“Apa yang sedang kamu tulis? Serius sekali,” tanya Lin Yuan lembut.
“Ti...tidak ada apa-apa. Kamu ini, jalan juga tidak bersuara, seperti kucing saja!” Xiaoxiao tergagap, berusaha mengalihkan perhatian.
“Kalau aku kucing, berarti kamu tikus. Selamanya kamu jadi santapanku,” Lin Yuan tersenyum nakal.
“Kamu... dasar bandel!” Xiaoxiao menggertakkan gigi.
“Maaf ya, semalam aku terlalu buru-buru, tidak terlalu hati-hati sampai membuatmu penuh ‘luka’. Hari ini kamu jadi harus membalut diri seperti lontong,” bisik Lin Yuan, menundukkan kepala.
“Kamu masih tega bicara!” Xiaoxiao mencubit paha Lin Yuan keras-keras.
Lin Yuan menahan sakit sambil melirik Xiaoxiao, kebetulan ada orang lewat sehingga ia tidak bisa marah, hanya bisa menahan diri. Setelah orang itu pergi, Lin Yuan mendekat ke telinga Xiaoxiao, berbisik, “Malam ini aku akan balas dendam, tunggu saja!”
Mendengar nada itu, wajah Xiaoxiao langsung memerah, seperti gadis kecil yang baru mengenal cinta. Lin Yuan merasa puas melihat pipi Xiaoxiao yang semerah buah persik. Ia yakin kelemahan Xiaoxiao sudah ia kuasai, Xiaoxiao tidak akan bisa lari dari genggamannya.
“Kenapa keluar dari studio?” Xiaoxiao berusaha mencairkan suasana.
“Istirahat sejenak,” jawab Lin Yuan sambil merapikan kerah.
“Rekaman hari ini lancar, sepertinya kita bisa cepat pulang,” lanjutnya.
“Selesai kerja nanti, aku ada urusan sedikit,” akhirnya Xiaoxiao bersuara.
“Urusan apa?” tanya Lin Yuan.
“Bukan hal penting, cuma mau beli obat di apotek,” Xiaoxiao menunduk.
“Oh, kalau begitu aku antar kamu,” sahut Lin Yuan tanpa pikir panjang.
“Tidak usah, cuma beli obat saja, tidak perlu repot-repot.”
“Apoteknya ada di lantai bawah, kamu beli, aku tunggu di parkiran,” Lin Yuan tetap bersikeras.
“Ehm... baiklah,” akhirnya Xiaoxiao mengalah.
Tak lama kemudian, Lin Yuan masuk lagi ke studio rekaman. Xiaoxiao memanfaatkan waktu luang untuk turun ke lantai satu dengan lift. Ia menemukan apotek besar di dekat gedung, mencari-cari di bagian produk wanita. Akhirnya, ia menemukan barang yang dicari di sudut yang tersembunyi. Entah kenapa, saat ia mengambilnya, tangannya seperti memegang bara panas dan jantungnya berdegup kencang. Dengan wajah merah, ia membawa barang itu ke kasir. Dalam tatapan kasir yang agak curiga, Xiaoxiao membayar dan buru-buru menyimpannya di tas. Jantungnya masih belum tenang, memandang keramaian di sekitar, ia menenangkan diri—semua orang pernah mengalami hal yang sama, tidak perlu terlalu cemas. Semangat kemenangan ala Ah Q yang dulu ia kagumi, kini benar-benar berguna. Xiaoxiao harus segera kembali, kalau tidak nanti sulit memberi alasan.
Dengan hati gelisah, ia tiba di luar studio. Melihat Lin Yuan masih serius rekaman, ia sedikit lega. Diam-diam, ia menatap Lin Yuan melalui kaca. Hari ini Lin Yuan mengenakan kemeja putih pilihan Xiaoxiao, tanpa riasan, wajahnya tetap tampan. Meskipun hanya mengenakan kemeja, tubuhnya tetap terlihat proporsional. Ah, berapa banyak gadis yang bermimpi menjadi kekasih Lin Yuan? Jika hubungan mereka terbongkar, penggemar Lin Yuan pasti akan sangat sedih, kariernya juga terancam. Lin Yuan, andaikan kau bukan selebriti, kita bisa berjalan bergandengan tangan di jalanan tanpa takut paparazi, menerima banyak restu... Tapi tidak ada “andaikan”. Ia tetap bintang besar yang dielu-elukan orang, sedangkan Xiaoxiao hanya bintang kecil yang tak dikenal. Cinta mereka tetap harus disembunyikan. Sungguh...
Xiaoxiao melamun sendirian menunggu Lin Yuan. Setelah selesai merekam semua lagu, Lin Yuan pamit pada kru dan keluar studio. Ia melihat Xiaoxiao menunduk, melamun tak menyadari kehadirannya.
Lin Yuan menepuk pundak Xiaoxiao, membuatnya tersadar.
“Sudah selesai?” tanya Xiaoxiao, memeluk tas di pangkuan.
“Sudah. Ayo pulang. Atau, kamu ingin beli obat yang tadi kamu bilang?”
“Tidak jadi,” jawab Xiaoxiao, menunduk menatap sepatunya.
“Oh, kalau begitu kita pulang saja,” kata Lin Yuan, tidak bertanya lebih jauh, membuat Xiaoxiao heran. Kenapa ia tidak bertanya? Kenapa tidak jadi beli obat? Apa ia tidak tahu kalau sakit harus minum obat? Atau ia memang tak peduli? Pikiran Xiaoxiao kembali melayang. Tapi, syukurlah Lin Yuan tidak bertanya. Jika ia tahu Xiaoxiao mau beli tes kehamilan, entah apa yang terjadi. Sudahlah, yang penting pulang dulu, urusan besar bisa menunggu sampai perut kenyang.
Mereka menuju parkiran, naik mobil. Tak jauh dari sana, lampu kilat kamera terus menyala.
Di vila Lin Yuan.
Saat makan malam, berbeda dari biasanya, Xiaoxiao diam saja, hanya menghitung butir nasi di piring. Tidak ada canda dan celoteh yang biasa ia lontarkan. Lin Yuan menikmati keheningan, tidak terlalu memperhatikan perubahan sikap Xiaoxiao. Sementara itu, Xiaoxiao terus ragu, haruskah ia melakukan sesuatu yang sudah lama ia pikirkan? Akhirnya, ia mantapkan hati, lebih baik menghadapi kenyataan daripada terus lari. Kata-kata guru biologi dulu terlintas di benaknya.
Setelah makan, Xiaoxiao membereskan meja lalu bergegas naik ke lantai atas. Ia tidak seperti biasanya berebut remote TV dengan Lin Yuan di ruang tamu, karena ada hal yang lebih penting untuk dibuktikan.
Lima menit kemudian, Xiaoxiao keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat. Tes itu menunjukkan garis merah yang jelas. Ia masih tak percaya, tapi lututnya lemas, air mata mengalir tanpa bisa ditahan. Apa yang harus ia lakukan? Kenapa harus begini? Pasti ini cuma mimpi buruk. Ia menundukkan kepala, kembali ke kamar, terbaring di atas ranjang besar, menatap langit-langit dengan mata kosong, mencoba mengurai pikirannya yang kusut. Kemungkinan besar ia memang hamil, tapi belum pasti, besok harus cek ke rumah sakit. Ah...
Lin Yuan sama sekali tidak menyadari perubahan pada Xiaoxiao. Setelah mandi, ia tidak menemukan Xiaoxiao di kamar, lalu sambil mengeringkan rambut ia berjalan ke kamar Xiaoxiao. Sejak mereka resmi bersama, Xiaoxiao hampir tidak pernah tidur di kamarnya sendiri, tetapi malam ini ia naik lebih awal, kemungkinan ada di kamar sendiri. Lin Yuan membuka pintu, kamar gelap gulita. Ia menyalakan lampu, mendekat ke ranjang, melihat Xiaoxiao duduk memeluk bantal kecil, kepala tertunduk, bahu gemetar, rambut menutupi wajah, tak jelas ekspresinya. Lin Yuan merasa ada sesuatu yang disembunyikan Xiaoxiao, suasana kamar terasa aneh.
“Xiaoxiao,” panggil Lin Yuan pelan, mengangkat wajah Xiaoxiao yang tersembunyi. Xiaoxiao menatapnya dengan wajah penuh air mata, membuat Lin Yuan terkejut.
“Xiaoxiao, kamu kenapa?” tanya Lin Yuan lembut, duduk di tepi ranjang.
“Tidak apa-apa... Aku... aku cuma kangen rumah,” jawab Xiaoxiao, matanya merah dan air mata terus mengalir.
Mendengar itu, hati Lin Yuan terasa perih. Ia memeluk Xiaoxiao erat-erat.
(Gadis kecil itu memang sedang menghadapi ujian, tapi syukurlah ia melewatinya dengan baik... Untuk kalian yang suka dengan Lin Yuan dan Yan Xiaoxiao, jangan pelit dengan bunga kalian! Dukungan kalian adalah semangatku! Jika ada saran atau komentar, silakan tinggalkan pesan. Aku masih pemula, belum berani mengambil risiko, hanya bisa berusaha maju pelan-pelan. Hehe, pamit dulu...)