Bab Tiga Puluh Dua: Wanita Tangguh

Asisten Kecil Sang Bintang Besar Gadis kecil, la la la la 2293kata 2026-03-04 14:02:28

Bab 32: Wanita Tangguh

Gedung perkantoran milik Grup Zhongshi.

Yan Xiaoxiao dengan terampil memarkir mobilnya di depan gedung, turun dengan anggun, melemparkan kunci mobil kepada satpam yang sudah lama menunggu, lalu melangkah masuk ke gedung dengan tas di pundak dan sepatu hak tinggi yang berderap.

Resepsionis dan para karyawan yang lewat segera membungkuk setengah badan dan menyapa dengan formal, “Direktur Utama.” Xiaoxiao menanggapi dengan anggukan datar tanpa ekspresi, matanya tetap menatap lurus ke depan, lalu masuk ke lift khusus miliknya.

Begitu pintu lift tertutup perlahan, suasana yang tadinya sunyi dan mewah di lobi segera berubah riuh. Semua orang berdecak kagum memuji kecantikan sang direktur utama. Khususnya para resepsionis wanita, mereka membicarakan dengan penuh iri pakaian kerja bermerek terbaru yang dikenakan Yan Xiaoxiao.

Lift perlahan naik hingga lantai dua belas. Begitu pintu terbuka, Yan Xiaoxiao melangkah keluar dengan percaya diri, meski ia masih belum terbiasa memakai sepatu hak tinggi. Kakinya sakit, lebih nyaman memakai sepatu olahraga, pikirnya sambil menahan rasa perih dari lecet di telapak kaki dan tetap melangkah tegar.

Di depan ruang kerja direktur utama.

Sekretaris Qin sudah menunggu di depan pintu. Ia membawa map, membukanya dengan cekatan, lalu melaporkan jadwal kerja hari itu dengan lancar.

“Jam sembilan pagi ada rapat tentang investasi baru di proyek apartemen, pukul dua belas makan siang dengan Direktur He dari Perusahaan Yuantai, pukul dua siang pertemuan dengan perwakilan Perusahaan Iklan Xige, dan pukul tujuh malam menghadiri pesta bisnis...”

Yan Xiaoxiao tak menanggapi, langsung mendorong pintu kayu cendana ungu dan masuk ke ruang istirahat pribadinya. Ia meletakkan tas, lalu berbalik menuju meja kerja besar, menerima secangkir kopi dari Sekretaris Qin, kemudian duduk di kursi putar hitam. Tatapannya berhenti pada foto bersama Tongtong di atas meja. Tongtong semakin mirip ayahnya. Perlahan ia memejamkan mata, tak ingin suasana hatinya rusak karena mengingat orang itu.

“Direktur Utama, masih ada 10 menit sebelum rapat dimulai,” lapor Sekretaris Qin yang berdiri di depannya.

“Ya, aku tahu,” Yan Xiaoxiao meletakkan kopi, lalu membuka laptop putihnya.

Ruang rapat.

Di sekitar meja rapat oval besar sudah dipenuhi karyawan berbaju jas rapi. Hanya satu kursi di tengah yang kosong—itulah kursi Direktur Utama.

Yan Xiaoxiao membawa laptop, berjalan tenang menuju kursi impian banyak orang itu. Ia duduk, meletakkan laptop di atas meja, dan berkata, “Kita mulai rapat.”

“Direktur Utama, di area pembangunan apartemen yang kita kontrak, masih banyak rumah lama yang belum dibongkar. Beberapa penghuni tetap menolak pindah, sehingga kemajuan proyek jadi sangat lambat,” lapor seorang pria berkacamata hitam.

“Bukankah sudah diberikan kompensasi sesuai perjanjian?” tanya Yan Xiaoxiao sambil jarinya menari di atas keyboard.

“Saya sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi mereka tetap tidak mau pindah. Kami benar-benar tak tahu harus bagaimana lagi.”

“Ada pendapat lain?” tanya Yan Xiaoxiao.

“Saya rasa kita bisa menempuh jalur hukum sesuai kontrak,” saran seorang karyawan pria sambil membetulkan kacamatanya.

“Saya pikir lebih baik didiskusikan baik-baik dengan mereka. Bertindak keras bisa berujung fatal,” ujar seorang karyawan perempuan muda sambil menatap layar laptopnya.

“Mereka itu sudah seperti preman. Mana mau diajak bicara baik-baik? Belum juga didekati, bisa-bisa sudah dilempar air kotor,” celetuk seorang pria setengah baya yang botak.

“…..”

Alis Yan Xiaoxiao berkerut. Jemari rampingnya menekan pelipis, namun seberkas kecerdikan tampak di matanya.

“Cukup, jangan berdebat lagi. Begini saja, Xiang, nanti kamu bawa beberapa orang ke lokasi proyek, cek langsung situasinya, besok buatkan laporan rinci.”

“Baik.”

“Kalau begitu, rapat selesai.”

Di taman kanak-kanak.

Sebuah mobil sport putih perlahan berhenti di depan gerbang. Ia turun, memutari mobil, membuka pintu, membantu Tongtong melepaskan sabuk pengaman, lalu menggandeng tangan gadis kecil itu masuk ke taman kanak-kanak. Sepanjang jalan, banyak ibu muda yang mengantar anak mereka menatapnya dengan kagum. Dengan kemeja kasual putih, ia tampak sangat elegan. Wajahnya yang tampan membuat orang sulit memalingkan pandangan.

Semua berdecak kagum akan ketampanan Liu Zichuan. Namun begitu melihat ia menggandeng seorang gadis kecil, mereka pun kecewa—ternyata sudah punya anak, tak ada gunanya berangan-angan.

“Paman Zichuan, banyak sekali wanita cantik yang melihatmu!” bisik Tongtong.

“Tapi, Tongtong, banyak juga anak laki-laki bule yang melihatmu!” Liu Zichuan menoleh ke arah beberapa bocah lelaki yang digandeng orang tuanya, mata mereka terus melirik ke arahnya.

“Mereka mana tampan, kerjanya cuma ganggu anak perempuan, rebut mainan. Pernah sekali, ada anak laki-laki dorong menara balok yang susah payah aku susun. Waktu itu aku sampai ingin memukulnya keras-keras,” keluh Tongtong sambil manyun, mengepalkan tinju mungilnya.

“Tongtong, jangan suka berkelahi, ya. Kalau ada apa-apa, bilang ke Mama atau Paman Zichuan, mengerti?” Liu Zichuan menasihati dengan sabar.

“Ya, aku mengerti.” Tongtong menunduk, tampak menyesal. Tapi karena ia sangat sayang pada pamannya, ia memutuskan memaafkan anak-anak asing itu untuk saat ini. Tapi kalau mereka berulah lagi, ia pasti akan menunjukkan hebatnya kungfu dari negeri Tiongkok.

“Tongtong, kamu sudah datang. Ini ayahmu, ya?” Seorang guru muda bergaun merah muda tersenyum menyambut mereka.

“Guru, ini pamanku,” Tongtong buru-buru menjelaskan.

“Paman? Kamu beruntung sekali punya paman sebaik ini.” Mata sang guru memancarkan kekaguman, pipinya memerah.

“Tongtong memang agak nakal, mohon bimbingannya, Bu Guru,” ujar Liu Zichuan sambil tersenyum.

Mendengar itu, sang guru nyaris pingsan karena terlalu gugup. “Saya pasti akan berusaha mendidik Tongtong sebaik mungkin, jangan khawatir.”

“Terima kasih! Tongtong, di sekolah harus dengarkan guru, jangan nakal, ya.” Liu Zichuan menyerahkan tangan Tongtong ke sang guru, tanpa sengaja menyentuh tangan wanita itu.

Seketika, sang guru merasa seperti tersengat listrik, mulutnya ternganga dan matanya berbinar-binar penuh kebahagiaan. Ia sampai kebingungan harus berkata apa.

Tongtong hanya bisa terdiam melihat gurunya yang masih menatap punggung pamannya, lalu melepaskan tangan sang guru dan berlari ke kelas. Sang guru pun terus memandangi mobil sport yang perlahan menjauh, hatinya berdebar tak menentu. Selama hidup, belum pernah ia melihat pria setampan itu. Sungguh anugerah dari langit, membuatnya yang merasa sudah terlalu lama sendiri bertemu pangeran berkuda putih. Tak hanya tampan, tapi juga kaya raya—di mana lagi bisa menemukan lelaki sempurna seperti itu!