Jilid Pertama Bab 11 Wawancara
Setelah Shi Heng pergi, Shi Yi meminum obatnya dengan patuh seorang diri. Kemudian, ia bersandar di tempat tidur sambil mengamati sekeliling kamarnya.
Tiba-tiba, matanya berbinar—komputer?
Setelah keluar dari penjara, keluarga Shi hanya melemparkan ponsel usang yang tidak bisa terhubung ke internet, apalagi digunakan untuk mengirim lamaran pekerjaan. Kini, ini adalah kesempatan yang sangat langka!
Shi Yi menyingkap selimut, melangkah turun dari tempat tidur dengan kaki telanjang, mendekati meja komputer, lalu dengan hati-hati menyalakan komputer milik Shi Heng.
Mungkin karena itu adalah komputer pribadi di dalam kamar, sistemnya tidak dilengkapi kata sandi, sehingga ia bisa segera masuk ke layar utama.
Shi Yi tidak berani mengutak-atik barang milik Shi Heng, ia hanya membuka peramban web.
Sesaat kemudian, ia mengeluarkan selembar kertas yang terlipat rapi dari balik pakaiannya dengan penuh kehati-hatian, lalu membukanya perlahan. Itulah selebaran rekrutmen untuk "Tim Medis Republik Suozali".
Selain tenaga medis, tim tersebut juga membutuhkan staf untuk bagian logistik, dan persyaratan pendaftarannya tidak terlalu tinggi.
Terlebih lagi, situasi di Suozali sedang tidak stabil dan wabah penyakit merajalela, sehingga kemungkinan tidak banyak orang yang mendaftar. Baginya, ini adalah sebuah kesempatan.
Sebuah kesempatan untuk benar-benar melarikan diri dari rumah ini.
Mengikuti petunjuk pada selebaran, Shi Yi memasukkan alamat situs web tersebut dan mengisi informasi dirinya dengan cermat satu per satu.
*
Seminggu kemudian, di suatu pagi, saat Shi Yi sedang menyiapkan sarapan, ponsel di sakunya tiba-tiba bergetar.
Shi Yi mengeluarkan ponselnya dan melihat sebuah nomor asing.
Ia segera mematikan kompor, berlari kecil ke kamar mandi, mengunci pintu, lalu mengangkat telepon.
"Halo, apakah ini Shi Yi?"
Sebuah suara wanita yang lembut terdengar dari seberang telepon; suaranya terdengar seperti wanita berusia sekitar 50 tahun.
"Ya, benar saya sendiri," jawab Shi Yi. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa seakan ingin meloncat keluar.
"Apakah Anda mendaftar untuk tim medis ke Republik Suozali?"
"Benar."
"Kami sudah meninjau lamaran Anda dan Anda pada dasarnya memenuhi persyaratan kami. Apakah Anda ada waktu untuk datang ke rumah sakit sore ini untuk wawancara?"
"Tentu, tidak masalah."
"Baik, nanti saya kirimkan alamatnya ke ponsel Anda. Mohon diperiksa."
Shi Yi mengangguk berulang kali, "Baik, terima kasih!"
Shi Yi mengatur napasnya yang tegang di dalam kamar mandi sejenak sebelum keluar. Begitu pintu terbuka, ia berpapasan dengan Shi Heng yang baru turun dari lantai atas dengan pakaian formal yang rapi.
"Kak..."
Shi Yi menunduk dan memanggil pelan dengan pandangan mata yang menghindar.
Melihat wajah Shi Yi yang tampak memerah secara tidak wajar, Shi Heng merasa khawatir. "Kenapa lama sekali di kamar mandi? Sakit perut?"
"Ya, hanya... sedikit sakit perut," jawab Shi Yi sekadarnya agar situasi cepat selesai.
"Kalau sakit perut, jangan keluyuran, kembalilah ke kamar dan istirahat!" ujar Shi Heng ketus. "Perlu aku bicarakan pada Ayah dan Ibu agar memindahkan kamarmu dari ruang bawah tanah?"
Sejak kondisi kesehatannya membaik, Shi Yi secara sadar pindah kembali ke ruang bawah tanah.
"Tidak perlu, aku sudah nyaman tinggal di sana," jawab Shi Yi lirih.
Shi Heng mendengus dalam hati. Terserah saja! Niat baiknya malah dianggap angin lalu.
"Kalau begitu aku berangkat kerja. Oh ya, mulai sekarang sarapan biar Bi Zhang saja yang buat, jangan menambah kekacauan lagi."
"Baik."
*
Pukul tiga sore, dengan alasan keluar untuk membeli bahan makanan, Shi Yi mengenakan pakaian kerja yang bersih dan formal, lalu tiba di depan rumah sakit.
Rumah Sakit Rakyat Kota Lanwan adalah rumah sakit paling otoritatif di seluruh Kota Lanwan dan juga menjadi tempat wawancara kali ini. Kebetulan sekali, rumah sakit ini adalah tempat kerja Su Yichen. Terakhir kali ia mengalami alergi makanan laut, ia dibawa ke rumah sakit ini.
Shi Yi membatin, ia hanya datang untuk wawancara, tidak mungkin ia sebernasib sial itu sampai bertemu dengan Su Yichen, bukan?
Ia merapikan kerah dan lengan kemejanya, lalu menuju lantai paling atas gedung perkantoran rumah sakit sesuai alamat yang diberikan.
Papan di pintu bertuliskan "Departemen Medis Internasional". Shi Yi menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat tangannya dan mengetuk pintu dengan pelan.
"Permisi."
"Silakan masuk."
Ia mendorong pintu dan mendapati ruangan kantor yang bersih dan rapi. Seorang wanita paruh baya berambut putih, berkacamata, dan mengenakan jas putih sedang duduk di depan meja dengan senyum ramah di wajahnya.
"Anda pasti Shi Yi, silakan duduk."
"Terima kasih."
Shi Yi berjalan mendekat dengan hati-hati lalu duduk di kursi, jantungnya berdegup kencang karena gugup.
"Jangan gugup, nama saya Ni Xia, panggil saja saya Bu Ni," ucap wanita berambut putih itu dengan senyum lembut.
"Baik, Bu Ni."
Melihat senyum tulus di wajahnya, perasaan Shi Yi perlahan menjadi tenang. Entah mengapa, ia merasa ada kedekatan yang tak terlukiskan dengan wanita ini, ia merasa wanita itu sangat mirip dengan kepala panti asuhan yang dulu merawatnya.
Selanjutnya adalah sesi wawancara.
"Boleh saya tanya, jika Anda berada dalam situasi dengan sumber daya terbatas, bagaimana cara Anda melakukan penanganan prioritas bagi pasien dengan cedera multipel?"
Pada pertanyaan pertama, Ni Xia langsung melemparkan pertanyaan medis yang sangat profesional.
Sejak kecil, Shi Yi menyukai ilmu kedokteran dan pernah diterima di Jurusan Kedokteran Universitas Qinglan, namun sayangnya ia tidak bisa masuk kuliah. Selama di penjara, ia hampir setiap hari membaca dan belajar mandiri dari buku-buku kedokteran. Buku-buku itulah yang pernah menjadi satu-satunya cahaya dalam hidupnya yang kelam.
"Pertama, saya akan melakukan evaluasi berdasarkan tingkat keparahan cedera dan tanda-tanda vital, lalu memprioritaskan penanganan cedera yang mengancam nyawa, seperti mengendalikan pendarahan hebat dan menjaga saluran pernapasan tetap terbuka," jawab Shi Yi dengan tenang namun tegas. Ia juga menjelaskan langkah-langkah perawatan spesifik dan poin-poin penting yang harus diperhatikan setelahnya.
Wajah Ni Xia menunjukkan ekspresi terkejut. Ia membolak-balik lembar lamaran di tangannya, memastikan bahwa gadis ini memang tidak memiliki latar belakang pendidikan medis dan hanya melamar untuk posisi logistik.
Bagaimana bisa ia menunjukkan profesionalisme yang begitu luar biasa?
"Jika tim medis menjalankan tugas di daerah terpencil dan terjadi wabah diare skala besar akibat pencemaran sumber air, bagaimana Anda akan menanggapinya?"
Selanjutnya, Ni Xia mengajukan pertanyaan praktis untuk menguji kemampuan adaptasi gadis itu.
Shi Yi berpikir sejenak. Tentu saja ia belum pernah mengalami situasi seperti itu, namun di dalam sebuah novel, ia pernah membaca skenario serupa. Meskipun plot dalam novel tidak bisa ditiru mentah-mentah, hal itu bisa menjadi referensi. Sambil berusaha mengingat dengan serius, ia menjawab dengan hati-hati:
"Pertama-tama, saya akan melakukan isolasi terhadap pasien untuk menghindari infeksi silang. Pada saat yang sama, saya akan mengambil sampel feses pasien untuk segera dikirim ke laboratorium darurat guna memeriksa patogennya. Mengingat sumber air lokal tercemar, kita perlu segera mencari sumber air yang aman. Jika tidak ada air bersih di dekatnya, kita akan menggunakan alat pemurni air untuk membersihkan sumber air yang ada. Bagi pasien diare, kunci utamanya adalah rehidrasi dan pemulihan elektrolit, yaitu dengan memberikan oralit atau melalui infus intravena untuk memperbaiki dehidrasi dan gangguan elektrolit..."
Shi Yi menjawab kata demi kata tanpa tergesa-gesa. Nada suaranya tenang dan logikanya sangat jelas.
Ekspresi Ni Xia perlahan berubah menjadi kekaguman dan persetujuan, ia sesekali tersenyum dan mengangguk.
Setelah Shi Yi selesai menjawab semuanya, Ni Xia mengangguk mantap. "Jawaban yang bagus. Sekarang, mari kita lanjutkan ke tahap terakhir—"
"Tes praktik langsung."