Bab 24: Tak Ada Lagi Jalan Mundur
Pei Wang melangkah maju dan berhenti tepat di depan Meng Xia.
"Tanyakan saja."
Meng Xia sebenarnya ingin bertanya tentang tujuh tahun yang lalu. Ingin bertanya apakah saat itu dia hanyalah beban yang dibuang begitu saja. Namun, setelah berkali-kali menyusun kalimat dalam benak, kata-kata yang meluncur dari bibirnya justru, "Aku ingin bertanya, berapa gaji bulanan Chen Zhen?"
"Apa?" Pei Wang menyipitkan mata menatapnya.
"Sudah lewat tengah malam tapi masih bekerja," lanjut Meng Xia dengan nekat, "Kapitalis yang kejam."
Setelah mengatakannya, ia mengabaikan tatapan Pei Wang, lalu berbalik dan berlari masuk ke dalam gedung apartemennya. Saat Pei Wang melangkah masuk ke lobi, sosok Meng Xia sudah menghilang, hanya menyisakan suara derap langkah kaki yang terburu-buru menaiki tangga.
Meng Xia sampai di lantai tujuh dengan napas terengah, membuka kunci pintu dan menutupnya dengan gerakan cepat. Ia bersandar di balik daun pintu sambil mengatur napas, jantungnya berdegup kencang di dalam dada.
Hampir saja. Hampir saja ia menanyakan hal itu.
Ia memejamkan mata dengan perasaan kesal. Pengalaman selama lebih dari dua puluh tahun mengajarkannya bahwa konsekuensi dari menjadi terlalu serakah adalah segalanya akan berakhir dengan cara yang paling buruk.
Seperti saat ia masih kecil, ia paling suka acara pertemuan orang tua murid di sekolah. Nilai dan prestasinya yang cemerlang bisa membuat kedua orang tuanya sementara waktu melupakan kebencian satu sama lain, menciptakan suasana hangat dan harmonis yang singkat di rumah.
Ia pernah membuat permintaan saat ulang tahunnya: berharap ada ujian setiap hari, dan setiap hari ada pertemuan orang tua murid. Permintaan itu ia ucapkan selama beberapa tahun berturut-turut.
Namun kenyataannya, di saat ia sangat mendambakan keutuhan keluarga, orang tuanya justru bercerai. Sejak saat itu, ia selalu menahan diri setiap kali ingin berharap. Alasannya sederhana, karena jika tidak menaruh harapan, ia tidak akan kecewa. Jika tidak pernah memiliki, maka tidak akan ada kata kehilangan.
***
Meng Xia menghabiskan waktu seharian untuk tidur, lalu malam harinya ia kembali ke rumah sakit untuk giliran jaga malam. Saat melangkah masuk ke lobi poliklinik, rekan dokter dan perawat menyapanya seperti biasa, seolah-olah tidak terjadi apa-apa semalam. Xiao Qi juga sudah pulih dari keterkejutannya dan kembali berceloteh tentang gosip-gosip tidak penting dengan polosnya.
Tampaknya, masalah Zhou Chun yang dibawa pergi oleh petugas keamanan adalah akhir dari segalanya. Namun, teringat kalimat terakhir yang diteriakkan Zhou Chun—penuh dengan dendam dan kepahitan—ia merasa masalah ini tidak sesederhana itu.
Setelah giliran jaga malam, Meng Xia mendapatkan libur dua hari. Dua hari lalu, Lin Xiangxiang baru saja kembali ke Kota He setelah menyelesaikan tugas luar selama dua tahun.
Begitu mendarat, ia langsung menelepon Meng Xia untuk mengajak bertemu. Pekerjaan luar yang sibuk membuat Lin Xiangxiang biasanya hanya bisa terbang pulang saat malam tahun baru dan harus bergegas kembali ke Kota Hai keesokan paginya. Meng Xia memutuskan untuk menggunakan satu hari untuk istirahat dan hari berikutnya untuk menemui Lin Xiangxiang.
Lin Xiangxiang sangat antusias untuk pertemuan pertama mereka setelah dua tahun. Ia menelepon Meng Xia yang baru saja selesai jaga malam dan terus mengoceh tanpa henti.
"Masakan ibuku memang tidak ada duanya," ujar Lin Xiangxiang di seberang telepon dengan mulut penuh makanan. "Kau tahu berapa kali aku makan sejak pulang dua hari lalu?"
Di luar jendela, cuaca cerah dengan sinar matahari yang hangat. Meng Xia yang baru selesai bersih-bersih setelah jaga malam, meringkuk di sofa, berusaha membuka kelopak matanya yang terasa berat sambil menanggapi dengan seadanya.
"Tidak tahu," jawabnya datar.
"Sebelas kali."
"Sebelas kali?" Meng Xia tidak bisa menahan diri untuk tidak meninggikan suaranya. "Makan enam kali sehari? Satu porsi dimakan dua kali?"
"Rasanya pulang ke rumah itu benar-benar luar biasa. Sekarang bibi penjual sate goreng di bawah apartemen sudah mengenalku, aku pelanggan setianya," seru Lin Xiangxiang. "Aduh, rasanya benar-benar menyenangkan."
Setelah menghela napas, ia tidak lupa memprovokasi Meng Xia, "Tapi kau tidak punya kesempatan merasakan ini. Kapan-kapan datanglah ke rumahku, biar kau tahu rasanya diperhatikan orang lain."
"Sudahlah," dengus Meng Xia. "Kau pikir hanya kau yang punya orang untuk membuatkan makanan?"
"Aku tahu kau punya, koki kantin rumah sakit, kan?" Lin Xiangxiang terkekeh, namun tawanya tiba-tiba terhenti. Perkataan tadi terasa ada yang janggal. Ia menyipitkan mata, "Meng Xia, ada yang tidak beres denganmu."
Dua detik berlalu, tidak ada bantahan dari Meng Xia. Lin Xiangxiang tertegun, lalu seketika berteriak histeris. "Kau serius? Benar-benar ada yang memasakkan makanan untukmu? Siapa! Siapa itu!"
Suara di balik telepon hampir memecahkan gendang telinga Meng Xia, membuatnya menjauhkan ponsel dari telinganya, berniat menunggu sampai temannya selesai berteriak.
Tiba-tiba terdengar suara klik dari pintu masuk, sangat pelan, namun tetap tertangkap oleh pendengaran Meng Xia. Ia terdiam sejenak, memusatkan pendengaran, namun tidak mendengar apa-apa lagi. Saat ia hendak menempelkan ponsel kembali ke telinga untuk melanjutkan pembicaraan, pintu tiba-tiba terbuka dan menghantam dinding dengan keras.
Cahaya matahari yang terik menyeruak masuk, menciptakan bayangan sosok seseorang di area pintu masuk. Hampir secara refleks, Meng Xia berdiri dari sofa. Ia menatap tajam sosok yang tidak diundang itu, tangannya diam-diam meraba vas bunga kosong di bawah meja kopi dan menggenggamnya erat untuk berjaga-jaga.
Lin Xiangxiang di seberang ponsel tidak tahu apa yang terjadi, ia terus memanggil, "Xia Xia? Xia Xia?"
Meng Xia mengangkat ponselnya dan berbisik pelan ke arah mikrofon. Namun sudah terlambat. Sosok itu terdiam sejenak, jelas mendengar keributan di dalam ruangan. Beberapa detik kemudian, sebuah benda dilemparkan masuk.
Benda itu mendarat di lantai ruang tamu dengan suara dentuman keras. Kunci pintu apartemen berserakan di lantai.
Setelah menimbulkan keributan sedemikian rupa, si penyusup tidak lagi berpura-pura. Zhou Chun melangkah masuk sambil menenteng kunci inggris sepanjang lengan bawahnya. Ia berhenti di sudut antara pintu masuk dan ruang tamu, bersandar di dinding. Terpapar sinar matahari, kunci inggris itu memancarkan kilau logam yang dingin, sementara wajahnya yang cantik dan angkuh menyunggingkan senyum tenang.
"Baru kemarin, aku mendapatkan sebuah berita dari Meng Fanliang," ucap Zhou Chun dengan nada datar sambil mengamati apartemen itu. "Dia bilang padaku kalau dia sudah lama mendapatkan hak milik rumah ini, tapi karena kau, dia tidak pernah memberitahuku."
Sambil berbicara, ia melangkah masuk ke ruang tamu, mengamati sekeliling sejenak, lalu berhenti di dekat sofa dan tiba-tiba menoleh ke arah Meng Xia. "Meng Xia, apa kau tahu tentang ini?"
Pertanyaan yang tiba-tiba itu membuat Meng Xia tertegun. Ia berpikir cepat selama dua detik sebelum matanya tertuju pada kunci inggris di tangan Zhou Chun. Suasana hati wanita ini tidak normal hari ini, demi keamanan, Meng Xia memutuskan untuk tetap diam.
Keheningan Meng Xia dianggap sebagai pengakuan oleh Zhou Chun.
"Jadi kau tahu, Su Yu juga tahu, hanya aku yang tidak tahu..." gumam Zhou Chun dengan tatapan kosong. "Jadi dari awal sampai akhir, hanya aku yang tidak tahu..."
Ia bergumam sejenak, lalu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak seperti orang gila. Suara tawanya terdengar melengking dan kasar, seperti gesekan kaca di atas papan tulis. Ia tertawa selama beberapa menit hingga air mata mengalir di pipinya dan menetes di atas kunci inggris.
Detik berikutnya, tawa itu terhenti seketika. Zhou Chun menggeram dari sela giginya, "Kalian semua mempermainkanku seperti orang bodoh!"
Ia mengangkat kunci inggris itu dan menerjang ke arah Meng Xia. Kunci besi yang berat itu diayunkan dengan keras ke arah lengan Meng Xia. Meng Xia menghindar dengan cepat, kunci inggris itu menyerempet lengannya, dan meski terhalang pakaian, ia bisa merasakan dinginnya logam tersebut.
Ia berlari menuju kamar tidur sambil membawa vas bunga, namun jaraknya terlalu jauh. Di tengah jalan, ia terpojok di depan dapur oleh Zhou Chun yang terus mengejarnya.
Tatapan Zhou Chun semakin ganas. "Sekarang aku tidak punya apa-apa lagi! Nyawaku tidak sebanding dengan nyawamu yang berharga, Meng Xia! Satu lawan satu, aku tidak rugi!"
Setiap kali ia berbicara, ia melangkah maju. Meng Xia terus mundur hingga punggungnya membentur kabinet dapur. Wajahnya seketika memucat, dan jari-jarinya mulai terasa dingin. Permukaan marmer meja yang dingin menyentuh pinggangnya, seolah menegaskan padanya bahwa ia benar-benar sudah tidak punya jalan untuk mundur.