Jilid Satu Bab 15: Bantuan dari Si Kecil
Halaman (1/3)
“Kak! Kak!” Jiang Yuecheng berlari kecil menghampiri pemuda yang sedang bernyanyi, lalu melambaikan tangan dengan penuh semangat.
“Wah, adik kecil yang cantik sekali. Manis benar wajahmu.” Pemuda itu menghentikan petikan gitarnya dan tersenyum sambil membungkuk. “Adik kecil, mau memesan lagu?”
“Hari ini ulang tahunku. Aku ingin kakakku menyanyikan sebuah lagu untukku, boleh?”
Jiang Yuecheng merapatkan kedua tangannya. Matanya berbinar-binar, bulu matanya yang panjang berkedip-kedip, lalu ia berkata dengan suara manja, “Tolong, yaa~”
Huang Ke tampak kebingungan dan bertanya pelan, “Hari ini ulang tahun Chengcheng?”
“Seharusnya bukan… Ulang tahunnya tanggal dua puluh tiga Agustus. Dia sendiri yang memberitahuku, kecuali kalau dia salah ingat.”
“Kalau begitu, kenapa dia… Oh!” Huang Ke akhirnya sadar. Wajahnya dipenuhi kekaguman. “Putrimu pintar sekali. Anak kecil ini benar-benar cerdik, idenya macam-macam.”
Jiang Kai juga segera memahami maksudnya.
Ia tersenyum pasrah sambil menggelengkan kepala.
Ia mengira setelah beberapa hari berinteraksi, dirinya sudah cukup memahami putrinya.
Ternyata ia masih meremehkan betapa pintarnya anak-anak zaman sekarang.
Mereka bukan lagi seperti anak-anak generasi delapan puluhan dan sembilan puluhan yang, ketika kecil, kebanyakan masih polos dan lugu.
Dahulu, anak-anak nyaris tidak memahami apa-apa.
Sekarang, anak-anak tahu hampir segala hal.
“Tentu saja boleh. Kakakmu ada di mana? Cepat suruh dia kemari! Adikmu ingin mendengar nyanyianmu pada hari ulang tahunnya. Permintaan seperti ini tidak boleh ditolak, ya.”
Orang-orang yang berkerumun ikut bersorak dan mulai melihat ke segala arah.
Suasana di tempat itu seketika menjadi meriah.
Jiang Kai mengangkat tangan, lalu melangkah maju dengan hati-hati.
“Dari wajahnya saja sudah jelas kalian kakak beradik. Mirip sekali!” kata pemuda yang memegang gitar itu sambil tertawa. “Ayo, nyanyikan satu lagu. Jangan mengecewakan harapan adikmu.”
Jiang Kai mengatupkan bibir, menundukkan kepala, lalu tersenyum pasrah sekaligus penuh kasih kepada Jiang Yuecheng.
“Hehe~” Setelah rencananya berhasil, si kecil menjulurkan lidah dengan nakal. “Aku ingin mendengar Kakak menyanyikan lagu ‘Sayang’!”
“Anak kecil tidak boleh mendengarkan lagu cinta. Ganti lagu lain,” jawab Jiang Kai tanpa berpikir panjang.
“Sepertinya yang dia maksud adalah lagu ‘Sayang’ milik Leehom Wang, yang dinyanyikan untuk putrinya, bukan? Benar begitu, adik kecil?” tanya pemuda itu sambil tersenyum.
Jiang Yuecheng mengangguk kuat-kuat. “Benar!”
Ternyata yang dimaksud adalah lagu ‘Sayang’ milik Leehom Wang.
Anak ini rupanya juga mewarisi selera musikku.
Dibandingkan lagu-lagu Jay Chou dan JJ Lin, Jiang Kai lebih menyukai lagu-lagu Leehom Wang. Ia pernah mendengarkan semuanya.
“Aku yang akan memainkan gitarnya. Kau yang bernyanyi.” Pemuda itu menggunakan ponselnya untuk mencari akor lagu tersebut, lalu menatap Jiang Kai sambil menunggu ia bersiap.
Jiang Kai menarik napas dalam-dalam, menerima mikrofon, kemudian mengarahkan tatapan lembutnya kepada Jiang Yuecheng.
Putriku ternyata punya akal kecilnya sendiri.
Kalau begitu, akan kunyanyikan untukmu.
Kelak, mungkin aku akan menyanyikan lagu ini untukmu berkali-kali.
Namun, kau pasti belum pernah mendengar ayahmu yang berusia delapan belas tahun menyanyikannya.
Jiang Kai menoleh dan mengangguk kepada pemuda yang memegang gitar.
Sesaat kemudian, alunan gitar yang merdu perlahan terdengar.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Jiang Kai membuka bibirnya. Suaranya yang rendah dan hangat mengalir mengikuti melodi gitar:
“Sayang, masih banyak kata yang ingin kusampaikan kepadamu.”
“Namun malam ini belumlah waktunya.”
“Aku tahu hatimu masih polos dan lugu.”
“Terkadang, kau akan terluka.”
“Ada ketakutan dan kebingungan.”
Dalam benak Jiang Kai, tanpa sadar terbayang malam ketika ia bertemu Chengcheng.
Gadis kecil itu menangis sendirian di tengah malam yang gelap, diguyur hujan badai.
Memikirkan hal itu, hati Jiang Kai mendadak menegang.
Matanya sedikit berkaca-kaca, dan emosi dalam nyanyiannya pun menjadi semakin kuat.
“Sepertinya orang-orang dari Asosiasi Musik sedang bernyanyi di sana. Mari kita lihat.”
Liu Xiran berjalan santai dengan kedua tangan di belakang punggung.
Sejak awal, ia memang sangat terikat dengan Asosiasi Musik. Karena kebetulan bertemu mereka, tentu saja ia ingin melihat.
“Tapi besok masih banyak urusan,” kata Qi Xiaoxue. Akhir pekan nanti ia berencana mengunjungi Chengcheng, jadi sebelum itu semua pekerjaannya harus diselesaikan.
“Aduh, pekerjaan tidak akan pernah habis. Kita juga tidak akan terlambat lama.” Liu Xiran menarik lengan Qi Xiaoxue dan merengek, “Ayo, ayo. Kita lihat sebentar.”
Qi Xiaoxue tersenyum tak berdaya. “Baiklah, tapi hanya sebentar. Setelah itu kita pergi.”
Keduanya berjalan semakin dekat.
Suara nyanyian pun terdengar semakin jelas.
“Kenapa rasanya suara ini agak tidak asing?” Pada awalnya Liu Xiran tidak terlalu memperhatikannya, tetapi ekspresi wajah Qi Xiaoxue di sampingnya sudah berubah secara samar.
Sepertinya… itu suara Jiang Kai!
Hatinya bergetar. Tanpa sadar, langkahnya pun dipercepat.
“Teman-teman, bisa beri jalan sedikit? Terima kasih!” Liu Xiran berkata kepada beberapa pemuda yang berdiri di bagian luar kerumunan.
Awalnya, para pemuda itu tidak ingin menggubrisnya.
Namun ketika mereka menoleh dan melihat wajah Liu Xiran serta Qi Xiaoxue—
Sial, mereka cantik sekali!
Tubuh mereka juga tinggi semampai, bahkan lebih tinggi daripada sebagian pria.
Para pemuda itu mengira mereka adalah kakak tingkat. Setelah tertegun sejenak, mereka segera menyingkir dan membuka jalan.
Liu Xiran menarik Qi Xiaoxue menerobos ke bagian depan kerumunan. Ketika melihat ketua Asosiasi Musik, Xu Yichen, sedang memainkan gitar, ia seketika berubah menjadi penggemar berat.
“Benar juga, musik adalah perawatan wajah terbaik bagi pria. Xu Yichen tampan sekali! Saat bermain gitar, dia terlihat begitu penuh perasaan.”
Kemudian pandangannya bergeser ke samping. Begitu melihat orang yang sedang bernyanyi, ia langsung membeku.
Ia mengucek matanya, memastikan bahwa ia tidak salah melihat.
Lalu ia menoleh dan berkata dengan penuh semangat kepada Qi Xiaoxue, “Ini… bukankah dia si anu itu… si Ayam Kampung!”
“Siapa ‘Ayam Kampung’? Namanya Jiang Kai!” Qi Xiaoxue membetulkannya dengan suara lembut, tetapi matanya tetap terpaku pada Jiang Kai.
Ternyata dia juga bisa bernyanyi.
Benar-benar tidak pernah kelihatan sebelumnya.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Qi Xiaoxue menatap wajah Jiang Kai dengan penuh rasa ingin tahu, lalu terus mendengarkan dalam diam.
“Sayang, selamanya kau akan menjadi harta kesayangan Ayah.”
“Kucium pipimu agar kau dapat tidur dengan tenang.”
“Sayang, sejauh apa pun jalan yang harus ditempuh, cintaku akan selalu menyertaimu.”
“Karena kau akan selalu menjadi sayangku…”
Suara Jiang Kai terasa seperti angin musim semi yang menyapu wajah. Qi Xiaoxue mendengarkannya dengan begitu larut.
Jika orang lain yang menyanyikan lagu ini—
Sebagus apa pun tekniknya, sedalam apa pun penghayatannya, mungkin ia tidak akan merasakan apa-apa.
Bahkan sebelumnya, ia belum pernah mendengar lagu ini.
Namun kini, setelah menghayati liriknya dan melihat sudut mata Jiang Kai yang sedikit memerah, senar hatinya tersentuh begitu dalam.
Pada saat itulah Qi Xiaoxue merasakan sepasang tangan kecil yang montok mencengkeram pergelangan tangannya erat-erat.
Ketika menunduk, ia melihat Chengcheng!
Jiang Yuecheng mengedipkan mata besarnya dan memanggil dengan suara manja, “Kakak!”
Si kecil sudah mengingat bahwa ketika berada di luar, ia harus memanggil mereka kakak laki-laki dan kakak perempuan. Kalau tidak, ia bisa menimbulkan masalah bagi ayah dan ibunya.
“Wah, adik kecil ini lucu sekali.” Liu Xiran berdiri tepat di samping mereka, jadi mustahil baginya untuk tidak memperhatikan.
“Aku ingat! Kakak adalah Bibi Xiran!” kata Chengcheng sambil menunjuk Liu Xiran.
“Panggil Kakak, bukan Bibi!” Liu Xiran sama sekali belum menyadari persoalan yang lebih dalam di balik ucapan itu.
Namun Qi Xiaoxue segera memahami maksudnya.
Si kecil pasti memanggilnya bibi karena pernah melihat Liu Xiran di masa depan.
Perasaan ini sungguh ajaib!
Dari sudut pandang Chengcheng di masa depan, semua paman dan bibi yang mereka kenal kini tampak jauh lebih muda.
“Mulai sekarang, panggil dia Kakak.” Naluri keibuan Qi Xiaoxue tiba-tiba meluap. Ia langsung menggendong Jiang Yuecheng.
Si kecil pun menyandarkan kepalanya ke leher Qi Xiaoxue, menikmati aroma ibunya.
Lalu, dengan pikiran yang nakal dan jenaka, ia membisikkan sesuatu ke telinga Qi Xiaoxue:
“Ini lagu yang Ayah nyanyikan untukku. Ayah sekarang sangat baik kepadaku. Ibu harus cepat-cepat memaafkan Ayah dan segera pulang, ya.”
Hati Qi Xiaoxue hampir meleleh karena kelucuan itu.
Ia memeluk si kecil dan menatap matanya dengan penuh kasih.
Liu Xiran yang berdiri di samping mereka tiba-tiba menunjukkan wajah penuh kebingungan setelah melihat pemandangan tersebut.
“Kenapa rasanya kalian berdua seperti dibuat dari cetakan yang sama? Mirip sekali!”
“Lagipula… kenapa dari diri Xiaoxue aku bisa melihat sedikit cahaya keibuan?”
Halaman (3/3)