Bab 36: Cepat atau Lambat Pasti Berpisah!
Setelah keterkejutan yang luar biasa, pandangan mata Xu Nian tampak kosong. Ia menyantap makanannya tanpa selera, dengan raut wajah yang kaku. Sang nenek pun tampak melamun, entah kenangan masa lalu apa yang sedang terlintas di benaknya.
Jian Wuyou menyadari perubahan suasana yang tipis itu, lalu tersenyum, "Kalian cerialah sedikit. Fu Sinan pria yang cukup baik, aku pasti akan bahagia menikah dengannya."
Awalnya, saat Jian Wuyou keluar dari rumah sakit jiwa dan mengetahui dirinya harus menikah dengan Fu Sinan, ia merasa panik dan tidak tahu harus berbuat apa. Namun, setelah sekian lama bersama, sikapnya perlahan melunak. Ia pun berharap masa depannya akan bahagia. Mendengar ucapan Jian Wuyou, Xu Nian dan neneknya memaksakan senyum, meski senyum itu terasa pahit.
Setelah makan, Xu Nian membonceng Jian Wuyou menuruni bukit dengan skuter listriknya. "Lebih cepat turun dari gunung pakai skuter."
Jalanan pegunungan itu terjal dan berbatu. Jian Wuyou terombang-ambing di atas jok motor, ia tak kuasa menahan kerutan di dahinya karena bokongnya terasa sakit dan tubuhnya tidak nyaman. Xu Nian seolah merasakan ketidaknyamanannya.
"Wuyou, peganglah pinggangku, mungkin akan terasa lebih baik," ucap Xu Nian berinisiatif.
Tangan Jian Wuyou yang bertumpu di jok belakang sempat ragu-ragu karena merasa canggung. Tiba-tiba, skuter itu melindas batu besar. Dorongan ke depan membuat tubuh Jian Wuyou tersentak, dan secara alami, tangannya langsung memeluk pinggang Xu Nian. Merasakan sentuhan itu, wajah Xu Nian seketika memerah. Ia tidak bisa berkata apa-apa dan hanya terbata-bata bertanya, "Kau tidak apa-apa?"
Jian Wuyou yang tersiksa oleh rasa sakit di bokongnya tidak sanggup membalas sepatah kata pun. Untungnya, tak lama kemudian, mereka sampai di jalan raya dan melaju menuju pusat kota.
Saat itu, Fu Sinan telah melacak bahwa Xu Qiangnan membawa Jian Wuyou ke sebuah rumah sakit kecil. Ia bersiap untuk menjemput Jian Wuyou dan memberinya pelajaran. Di sebuah persimpangan, Fu Sinan melirik ke luar jendela mobil dan melihat skuter listrik berwarna hitam. Di atasnya duduk seorang pria dan wanita. Wanita itu memeluk pinggang sang pria dengan senyum lebar dan tatapan mata yang cerah. Yang paling mengejutkan, wanita itu adalah Jian Wuyou!
Benar saja, wanita ini akan langsung melarikan diri begitu ada kesempatan. Amarah yang meluap-luap membakar dada Fu Sinan. "Berhenti!" seru Fu Sinan murka.
Jian Wuyou sedang tertawa terbahak-bahak mendengar cerita lucu dari pekerjaan Xu Nian. Saat sedang tertawa, sudut matanya menangkap sosok pria berpakaian hitam yang menerjang ke arahnya dan menarik kerah baju belakang Xu Nian dengan kasar.
Semuanya terjadi dalam sekejap. Xu Nian dan Jian Wuyou terjatuh ke tanah. Kaki Jian Wuyou yang memang sudah terluka kini kembali terbentur, menimbulkan rasa nyeri yang hebat. Dengan mata berkaca-kaca, ia mendongak dan langsung menatap wajah Fu Sinan yang penuh murka.
"Fu Sinan, apa yang kau lakukan?" keluhnya, ia merasa kesakitan.
Mendengar nama Fu Sinan, Xu Nian menatap pria yang berdiri tegak itu. Aura Fu Sinan sangat kuat dan mengintimidasi. Naluri Xu Nian mengatakan bahwa pria seperti ini tidak cocok untuk Jian Wuyou. Wanita dengan karakter seperti Jian Wuyou seharusnya bersama seseorang yang merawatnya dengan sepenuh hati.
Fu Sinan meradang mendengar pertanyaan Jian Wuyou, "Apa maksudmu dengan apa yang aku lakukan? Jian Wuyou! Aku hanya pergi dinas beberapa hari, kau malah bertindak sejauh ini. Mulai dari menyuruh Bibi Wang pulang, berpura-pura kembali ke keluarga Jian, lalu menipu ibu kandungmu sendiri untuk membuat skenario seolah kau harus ke rumah sakit."
"Sebenarnya tujuan utamamu adalah melarikan diri dengan pria ini, bukan?" Fu Sinan melirik Xu Nian dengan tatapan merendahkan. Pria itu tampak seperti pemuda yang lemah, dan pada akhirnya memang terbukti tidak berguna.
Mata Jian Wuyou membelalak. Ia tidak menyangka Fu Sinan berpikiran seperti itu tentang dirinya. Padahal, ia buru-buru minta diantar turun oleh Xu Nian justru karena takut tidak bisa menjawab panggilan video Fu Sinan dan membuatnya marah. Ternyata, inilah yang dipikirkan Fu Sinan. Air mata seketika jatuh membasahi pipinya.
Fu Sinan mengira Jian Wuyou menangis karena pria itu, yang justru membuatnya semakin sakit hati. Ia berjongkok di samping Jian Wuyou dan menatapnya tajam. "Jian Wuyou, selama tiga tahun ini, kau hanya bersama pria seperti ini? Memangnya dia bisa melindungimu?"
Jian Wuyou hanya menangis. Fu Sinan menarik tangannya dan memaksanya berdiri. "Jian Wuyou, jangan lupa, kau adalah istriku sekarang. Sebaiknya kau putuskan hubungan dengan pria di luar sana, atau aku akan menghukummu dengan keras."
Karena keributan yang cukup besar, orang-orang di sekitar mulai berkerumun dan berbisik-bisik.
"Ya ampun, wanita itu memang cantik, pantas saja dia punya kemampuan seperti itu."
"Pria itu juga tidak buruk, kenapa sampai terjadi hal seperti ini?"
"Kau tidak mengerti, orang cantik memang tidak akan pernah merasa puas."
Fu Sinan melayangkan tatapan tajam yang membungkam mulut-mulut usil tersebut. Ia kemudian merengkuh Jian Wuyou ke dalam pelukannya dan membawanya masuk ke mobil. Fu Sinan memijat pelipisnya dan berkata kepada sopir, "Pulang."
Setelah masuk ke mobil, Jian Wuyou meringkuk di kursi belakang, memalingkan wajah ke arah jendela tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Fu Sinan menepuk kursi di sampingnya, "Kemarilah, ada yang ingin kubicarakan."
Pertengkaran hari ini membawa mereka kembali ke titik awal: hening dan asing. Melihat bahu Jian Wuyou yang kurus bergetar, Fu Sinan akhirnya menghela napas. Ia bergeser ke samping, merangkul bahu Jian Wuyou, dan menariknya ke dalam pelukan. Betapa ia sangat peduli pada wanita ini, bagaimana mungkin ia tega membuatnya marah?
Saat Jian Wuyou menghilang, Fu Sinan merasa panik dan kacau. Kini setelah Jian Wuyou kembali, hatinya sedikit tenang. Ia benar-benar takut jika Jian Wuyou akan meninggalkannya.
"Jian Wuyou, berjanjilah padaku untuk tidak lagi berhubungan dengan pria lain di luar sana. Setelah ini, mari kita jalani hidup dengan baik. Kali ini aku tidak akan memarahimu lagi, bagaimana?"
Mendengar itu, Jian Wuyou akhirnya menoleh. Tatapannya beradu dengan mata Fu Sinan, sarat dengan kesedihan. "Mengapa kau tidak bertanya mengapa aku bersamanya? Mengapa kau tidak bertanya apa yang terjadi padaku beberapa hari ini? Begitu kembali, kau langsung menyalahkanku. Fu Sinan, sebenarnya seperti apa diriku di matamu?"
Pertanyaan itu membuat Fu Sinan tertegun. Benar, ia tidak bertanya apa-apa dan langsung memarahi Jian Wuyou. Jian Wuyou teringat bagaimana beberapa hari ini ia dipaksa makan paprika oleh Jian Huaian, diikat di ranjang rumah sakit oleh Zhao Jingke, dan kini dituduh oleh Fu Sinan. Hatinya terasa begitu perih.
Fu Sinan mengusap air mata Jian Wuyou dengan ibu jarinya. "Jangan menangis. Katakanlah, aku akan mendengarkan semuanya."
Namun, Jian Wuyou sudah tidak ingin bicara. Ia hanya meringkuk di pelukan Fu Sinan, perasaannya perlahan mereda. Biarlah seperti ini saja.
Sikap diam Jian Wuyou justru kembali memicu emosi Fu Sinan. Ia paling tidak suka dengan sifat Jian Wuyou yang selalu menyimpan segalanya sendiri. Jika dia tidak mau bicara, maka Fu Sinan sendiri yang akan menyelidikinya!