Jilid Pertama Bab 38 Kaum Senjata Roh Tidak Memiliki Penyesalan

Reprovado no exame marcial e rejeitado no noivado, agora você se arrepende, mas já é tarde! Vestes em seda sob a chuva, segurando um manto verde. 1214kata 2026-08-03 12:50:58

Xu Feng tersentak kaget mendengar ucapan itu, ia hampir lupa bahwa Kak Meng Yuan masih berada di dalam tubuhnya.

Perkataan Meng Yuan membuat wajah Xu Feng memerah padam. Tak lama kemudian, pintu diketuk.

Dengan wajah yang masih merona, Xu Feng berdeham dua kali dan berkata, "Masuklah!"

Kakak beradik Zhu Yiyun yang mengenakan seragam sekolah Jepang pun masuk dan menyapa dengan lembut.

Fakta membuktikan bahwa tekanan yang diberikan oleh Iblis Pencuri Hati kepada Divisi Malam di Kota Changyi jauh melebihi penjahat biasa.

Cheng Yiyi berjalan mendekat dengan riang, lalu tiba-tiba melakukan sapuan kaki yang menjatuhkan Gu Shaoqing yang bertubuh tinggi besar itu ke tanah.

Sementara itu, Li Xiuluo sempat tertegun mendengar kata-kata Yu Qiufan, namun saat mendengar ucapan Jenderal Dewa Canglu, raut wajahnya menunjukkan pergulatan batin.

Li Bugui tidak mendongak saat mendengar langkah kaki. "Ini adalah mata dari iblis beracun," ujarnya pelan sambil duduk di kursi santai di halaman, jemarinya sibuk memilah tanaman obat seolah takut terdengar oleh orang lain.

"Baik." Mendengar itu, Dongfang Xuanze bangkit untuk pergi, namun ia mendengar suara di dekat pintu. Chen Jintong yang sudah diperban terlihat jauh lebih pucat daripada pagi tadi, namun ia memaksakan diri untuk datang.

Chen Jintong tidak tahu menahu soal tatapan redup dan gejolak batin yang dirasakan Dongfang Xuanze. Sejujurnya, ia tidak tahu apa-apa; saat ini, Chen Jintong masih terbuai dalam euforia kemenangan.

Terutama sejak kemunculan Liu Zixuan, para pemain gim yang cerdik telah mencium bau tak sedap dalam turnamen bela diri kali ini. Tragedi yang menimpa basis keluarga pemain gim Qixuanmen setengah tahun lalu ternyata tidak sesederhana yang dikisahkan oleh Luo Ran, sang pendekar tanpa nama yang diwariskan oleh keluarga pemain tersebut.

"Aku tidak tahu, dia menghilang. Orang tuanya juga sedang mencarinya. Aku sudah mencari ke mana-mana, namun sampai saat ini tidak ada petunjuk sedikit pun. Aku justru lebih ingin tahu keberadaannya daripada dirimu," ujar Xiao Lingfei.

Huyan Peiqing yang terus mengamati dari pinggir lapangan selama beberapa hari ini, merasa bahwa tindakan gegabah Luo Yan yang hanya mengandalkan emosi itu terlalu nekat, sehingga ia mulai mengkhawatirkan tantangan tersebut.

Chen Jintong bergumam seolah berbicara pada diri sendiri, "Orang itu hilang, cari saja di mana-mana. Jika tidak ketemu, lapor saja pada pejabat. Aku adalah orang yang jujur dan tulus, aku tidak punya kebiasaan menikam orang dari belakang." Chen Jintong menghentakkan kakinya dengan marah, lalu melangkah lebar masuk ke dalam ruangan.

Mendengar perkataan Xue Yaha, Wu Yong hanya bisa menjulurkan lidah. Organisasi ini luar biasa sekali, bukan? Di negara lain mereka menyerang polisi, membunuh, membakar, dan melakukan segala perbuatan keji, namun di negara ini, mereka justru menjadi organisasi keagamaan yang legal. Siapa yang akan percaya jika hal ini diceritakan?

Astaga, dunia ini ternyata memiliki orang aneh seperti itu, bahkan sekadar mengobrol pun tidak bisa. Wu Yong merasa usahanya benar-benar sia-sia, padahal ia sudah menempuh ribuan mil ke kota untuk membeli minuman dan makanan.

Tantangan terhadap ahli tingkat leluhur demi mendapatkan kuota memasuki Tanah Jiuyou saat ini sedang berlangsung dengan sengit.

Tadi ia bersembunyi di kegelapan demi menjebak Jiang Han. Bagaimana mungkin Jiang Han menurunkan kewaspadaannya terhadap orang yang berasal dari Bumi itu?

"Di mana kita ini..." Su Mu mengamati pegunungan terjal di sekelilingnya dan menyadari bahwa mereka berada di atas jembatan kayu tunggal yang sudah lapuk. Di bawahnya terdapat jurang yang sangat dalam, sementara awan hitam pekat yang membentang ribuan mil membuat napas terasa sesak.

Xiang Xiangna semakin sedih memikirkannya. Ia melompat turun dari tempat tidur, bergerak secepat kilat menuju laci meja rias untuk mengambil gunting, lalu berlari menerjang ke arah Wu Yong.

"Terima kasih atas kepercayaannya, saya sangat menghargainya." Wajah Bai Luhuan tampak berseri-seri, ia tersenyum tipis lalu menoleh ke arah Ruan Mengying, berharap ia juga bersedia membuka suara.

Setelah bersusah payah menunggu Wei Jinghuan bangun, Yan Yuncheng diam-diam merangkak keluar dari bawah dipan. Saat melihat keadaan sepi, ia segera kabur menghilang dari tenda Wei Jinghuan.