Jilid Pertama Bab 12 Aduh, Kok Bisa Lupa Mereka
Halaman 1 dari 3
“Rahasia sekali.”
Jiang Ruyuan mengedipkan mata dan tidak terlalu memedulikannya. Ia hanya berpesan lirih, “Aku saja yang membuka pintu. Kau kembalilah.” Setelah itu ia berbalik dan bergegas keluar.
Mu Jinglan tidak menolak. Ia mendorong kursi rodanya sambil diam-diam mengikuti dari belakang, lalu berhenti kira-kira satu meter dari pintu.
Jarak itu cukup untuk mengawasi Jiang Ruyuan, sekaligus memungkinkannya segera melindungi perempuan itu bila diperlukan.
Tentu saja Jiang Ruyuan tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Mu Jinglan. Ia juga tidak menyadari bahwa pria itu mengikutinya. Ketukan dari luar terdengar seperti panggilan maut, membuat jantungnya berdegup kencang dan suasana hatinya menjadi semakin buruk.
“Datang, datang. Aku segera membukanya.”
Pintu utama berderit ketika dibuka. Jiang Ruyuan menjulurkan kepalanya keluar.
“Kalian mencari—”
Kalimat itu belum selesai, tetapi Jiang Ruyuan sudah menutup mulut, berbalik, lalu menutup pintu dalam satu gerakan yang sangat lancar.
Ia bahkan sempat menepuk-nepuk dadanya sendiri.
Ya ampun, bagaimana bisa ia melupakan dua orang menyebalkan itu? Sekarang mereka malah datang sampai ke depan rumah.
Ck, merepotkan.
Jiang Ruyuan menggesekkan ujung kakinya ke lantai. Apakah masih sempat berkemas lalu kabur?
“Jiang Ruyuan, perempuan kurang ajar! Berani-beraninya kau menutup pintu!”
Di luar, Jiang Daqiang menatap pintu yang tertutup rapat dengan tak percaya. Ia melompat-lompat sambil memaki dengan suara keras.
“Berani mengurung ayahmu di luar, apa kau sudah tidak punya hati nurani? Ayah membesarkanmu dari kecil, bersusah payah menyuapi dan merawatmu, hanya supaya kau mengunci ayah di luar?”
“Dasar anak tak tahu balas budi, anak durhaka! Cepat buka pintunya! Ayah datang karena ada urusan!”
Jiang Ruyuan memutar matanya dengan kesal. Ck, urusan apanya? Bukankah mereka datang karena melihat ia belum bercerai kemarin dan hendak mendesaknya lagi? Ia bukan pemilik tubuh sebelumnya yang bodoh itu, yang bisa dengan mudah dibohongi pasangan tersebut.
Namun, mereka sudah mengepungnya sampai ke depan rumah. Menutup pintu terus-menerus memang tidak pantas.
Keluarga Mu memang tinggal di rumah dua lantai, tetapi mereka tetap memiliki tetangga. Saat ini beberapa tetangga sudah keluar untuk menonton keributan. Di zaman seperti ini, para tetangga sering bertemu setiap hari dan hubungan antarmereka cukup erat. Terlebih lagi, orang-orang sangat memperhatikan pandangan masyarakat.
Jiang Ruyuan boleh saja tidak peduli, tetapi keluarga Mu sedang berada dalam masa genting dan tidak boleh mengabaikan hal semacam itu. Ia menarik napas dalam-dalam, berbalik, lalu mengangkat tangan hendak membuka pintu.
Suara Mu Jinglan terdengar dari belakang.
“Perlu kubantu?”
Jiang Ruyuan perlahan mengangkat wajah. Seketika ia melihat Mu Jinglan tidak jauh darinya.
“Kenapa kau keluar?”
Halaman 2 dari 3
“Bukankah aku sudah menyuruhmu kembali? Kau sendiri tidak kembali.”
Mu Jinglan mengangkat dagunya dan mengarahkannya dua kali ke pintu utama. Senyumnya hangat.
“Aku takut kau tidak sanggup menghadapinya.”
“Itu tidak mungkin.”
Jiang Ruyuan melambaikan tangan dengan penuh keyakinan. Menghadapi ayah dan ibunya sendiri saja ia sanggup, apalagi menghadapi orang tua kandung pemilik tubuh ini. Masa ia tidak mampu? Mu Jinglan benar-benar meremehkannya.
“Baiklah, kalau begitu kau saja. Aku tidak akan ikut campur.”
Mu Jinglan mengangguk, tetapi sama sekali tidak menunjukkan niat untuk pergi.
Jiang Ruyuan tidak lagi memedulikannya. Ia membuka pintu utama dengan cepat.
“Aduh!”
Di luar, Jiang Daqiang sedang berjinjit sambil menepuk-nepuk pintu. Pintu yang tiba-tiba terbuka membuatnya hampir terjatuh. Untunglah Shen Zhaodi bergerak cepat dan menariknya, sehingga Jiang Daqiang terhindar dari jatuh tersungkur.
Pasangan itu saling berpandangan dengan perasaan senasib. Begitu berdiri tegak, mereka langsung melancarkan omelan kepada Jiang Ruyuan.
“Dasar anak kurang ajar! Kalau membuka pintu, tidak bisakah kau bilang dulu? Tidak melihat ayahmu sedang mengetuk? Main buka saja! Kalau ayah sampai jatuh, sanggupkah kau mengganti kerugiannya?”
“Menurutku, anak perempuan memang tidak bisa diandalkan. Mengurus sesuatu saja tidak becus.”
Yang satu menyebutnya anak kurang ajar, yang lain memanggilnya gadis sialan. Mereka berbicara tanpa sedikit pun menjaga sikap. Jelas sekali, mereka pasti sudah terbiasa memanggil putri mereka dengan sebutan-sebutan seperti itu.
Jiang Ruyuan berdiri di ambang pintu sambil mengusap dagunya, tetap tenang. Namun, perlahan muncul sebuah pertanyaan dalam benaknya: apakah kedua orang ini benar-benar orang tua kandung pemilik tubuh sebelumnya?
Selama hidup lebih dari dua puluh tahun, ia belum pernah melihat orang tua kandung yang terus-menerus menyebut putrinya sebagai anak kurang ajar dan gadis sialan.
Mengingat kecenderungan penulis novel menciptakan alur yang aneh-aneh, Jiang Ruyuan semakin yakin bahwa pemilik tubuh sebelumnya sama sekali bukan anak kandung kedua orang di hadapannya. Delapan puluh persen kemungkinan, gadis itu ditukar di suatu tempat atau bahkan diculik. Hanya saja, saat ini ia belum memiliki bukti.
Awalnya ia masih berpikir, bagaimanapun juga kedua orang ini adalah orang tua kandung pemilik tubuh sebelumnya. Demi menghormati pemilik tubuh yang telah menyerahkan tubuhnya kepadanya, ia berniat untuk tidak memperlakukan mereka terlalu buruk, sekalipun tidak mau memanjakan mereka.
Namun, jika dugaannya benar, kedua orang di hadapannya ini adalah pedagang manusia. Kalau begitu, untuk apa menjaga perasaan mereka? Ia bisa langsung membalas tanpa basa-basi.
Memikirkan hal itu, Jiang Ruyuan menyilangkan tangan di depan dada dan berkata dengan tenang, “Kalau ada urusan, cepat katakan. Kalau tidak ada, enyahlah. Datang ke sini hanya untuk berteriak-teriak? Kalian terus memanggilku anak kurang ajar dan gadis sialan. Kalau masih berani bicara seperti itu di depanku, jangan salahkan aku kalau bertindak kasar.”
“Kau!”
Mendengar perkataan itu, pasangan Jiang Daqiang langsung tertegun. Bagaimanapun, mereka telah membesarkan Jiang Ruyuan selama dua puluh tahun. Kapan mereka pernah melihat gadis itu bersikap sekuat ini? Biasanya ia selalu penurut dan menerima apa pun yang mereka katakan.
Keduanya saling berpandangan. Jiang Daqiang maju selangkah dan mengangkat tangan hendak menampar.
“Berani menyuruh ayahmu pergi? Sepertinya kau sudah salah minum obat!”
Halaman 3 dari 3
Biasanya, sampai pada tahap ini, pemilik tubuh sebelumnya pasti sudah menundukkan kepala sambil memeluk kepalanya dan memohon ampun. Namun hari ini, Jiang Ruyuan menangkap tangan Jiang Daqiang, lalu mengibaskannya dengan keras hingga pria itu terlempar.
“Aduh!”
Pantatnya jatuh menghantam tanah, sementara telapak tangannya langsung lecet. Jiang Daqiang tercengang. Ketika memandang Jiang Ruyuan lagi, matanya tanpa sadar memancarkan sedikit ketakutan.
“Anak kurang ajar, berani-beraninya kau memukulku!”
Jiang Ruyuan menunduk. Mata indahnya dipenuhi kepolosan.
“Aduh, maaf sekali. Tanganku terlalu kuat dan aku tidak sengaja.”
“Kau…”
Shen Zhaodi menatap Jiang Daqiang, lalu Jiang Ruyuan, kemudian orang-orang di sekitar yang sedang menonton. Setelah itu, ia menjatuhkan diri ke tanah, menepuk-nepuk pahanya, dan mulai menangis.
“Aduh, ibuku! Putriku memukul orang! Putriku memukul ayah kandungnya sendiri! Siapa yang mau menolongku?”
“Apakah di dunia ini masih ada keadilan? Hiks…”
“Pantas!”
“Menantu keluarga Mu memang sudah seharusnya bersikap seperti itu!”
“Benar. Akhirnya dia tidak bodoh lagi.”
“Keluarga Mu akhirnya bisa bernapas lega…”
Namun, yang tidak diduga Shen Zhaodi, tangisannya bukan hanya tidak mengundang simpati. Orang-orang di sekitarnya malah menunjuk-nunjuk dan mencemoohnya, mengatakan bahwa ia pantas mendapatkannya. Ini sama sekali berbeda dari yang dibayangkannya. Shen Zhaodi pun tertegun di tempat dengan mulut menganga lebar.
Ia tidak tahu bahwa sejak pemilik tubuh sebelumnya menikah dengan Mu Jinglan, ia dan Jiang Daqiang sudah sering datang untuk mengais keuntungan. Makanan, minuman, pakaian, dan berbagai kebutuhan sehari-hari semuanya mereka raup dari rumah keluarga Mu. Karena itulah, keduanya sudah terkenal buruk di lingkungan tersebut.
Pada masa itu, sumber daya sangat terbatas dan setiap keluarga hidup serba sulit. Tidak ada yang ingin memiliki besan yang datang mengemis keuntungan setiap beberapa hari. Diam-diam, semua orang bersimpati kepada keluarga Mu.
Kini Jiang Ruyuan sudah berani melawan dan tidak lagi bersikap takut-takut di hadapan orang tuanya. Para tetangga tidak bersorak secara terang-terangan saja sudah merupakan keberuntungan bagi Shen Zhaodi. Bagaimana mungkin mereka merasa iba hanya karena perempuan itu duduk di tanah sambil menepuk-nepuk paha dan menangis beberapa kali?